.: RISALAH ISLAM :.

Kamis, 30 Oktober 2008


Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-quran dan As Sunnah

Istighfar dan Taubat

Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan:

a. Hakikat istighfar dan taubat.
b. Dalil syar'i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki.

A. Hakikat Istighfar dan Taubat

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan,
"Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya"

Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna"

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan
(maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk
mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf."
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah "Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan.
Dan
firman Allah:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun." (Nuh: 10).
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.

B. Dalil Syar'i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki

Beberapa nash (teks) Al-Qur'an dan Al-Hadits me-nunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud:

  • Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya :

    "Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu',
    sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan
    hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan
    mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)
    untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12).

    Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar.

    • Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."
    • Diturunkannya
      hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata
      "midraara " adalah (hujan) yang turun dengan deras.
    • Allah akan membanyakkan
      harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha' berkata: "Niscaya
      Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian".
    • Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
    • Allah akan menjadikan untuknya
      sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: "Dalam ayat ini, juga
      disebutkan dalam (surat Hud) adalah dalil yang menunjukkan bahwa
      istighfar merupakan salah satu sarana meminta ditu-runkannya rizki dan
      hujan."


    Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata:
    "Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya
    dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki
    kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit,
    mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan
    untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan
    harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di
    dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan
    sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

    Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang
    dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon
    hujan dari Allah .

    Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: "Bahwasanya Umar keluar untuk
    memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari
    mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang.
    Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon
    hujan'. Maka ia menjawab, 'Aku memohon diturunkannya hujan dengan
    majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu
    beliau membaca ayat:
    "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha
    Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat."
    (Nuh: 10-11).

    Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun)
    kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan,
    kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun.

    Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bah-wasanya ia
    berkata: "Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri
    tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya,
    "Beristighfarlah kepada Allah!" Yang lain mengadu kepadanya tentang
    kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada
    Allah!" Yang lain lagi berkata kepadanya, "Do'akanlah (aku) kepada
    Allah, agar ia memberiku anak!" Maka beliau mengatakan kepadanya,
    "Beristighfarlah kepada Allah!" Dan yang lain lagi mengadu kepadanya
    tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya,
    "Beristighfarlah kepada Allah!"

    Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang
    sama. Dalam riwayat lain disebutkan: "Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata
    kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan
    Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan
    Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku sendiri.
    Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:

    "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha
    Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat,
    dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu
    ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
    (Nuh: 10-12).

    Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar!
    Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-ham-baMu yang pandai
    beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di
    akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin,
    wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya.

  • Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.

    "Dan (Hud berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu
    lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat
    lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan
    janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (Hud:52).

    Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas
    menyatakan: "Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang
    dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan
    mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa
    memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya,
    melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah
    berfirman:
    "Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu".

    Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat
    taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah
    urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha
    Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki
    keagungan dan kemuliaan.

  • Ayat yang lain adalah firman Allah:

    "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat
    kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
    memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada
    waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap
    orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
    berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
    Kiamat." (Hud: 3).

    Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha
    Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang
    beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya:

    "Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus)
    kepadamu." Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, "Ia
    akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian".

    Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: "Inilah buah
    dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada
    kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran
    hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya
    terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.

    Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk
    pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin
    Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa
    beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab
    sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang
    melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan
    balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan
    berdasarkan syarat yang ditetapkan".

  • Dalil lain bahwa beristighfar
    dan taubat adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang
    diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Hakim
    dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:
    "Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah),
    niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan
    untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki
    (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka".

    Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang
    berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat
    dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu,
    bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan
    mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak
    diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

    Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hen-daklah ia
    bersegera untuk memperbanyak istighfar (memo-hon ampun), baik dengan
    ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali
    lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan
    lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.

Tidak ada komentar: