.: RISALAH ISLAM :.

Selasa, 01 Desember 2009

PIWULANG SEJATINING URIP

PADA SUATU KETIKA SESEORANG AKAN MENYADARI BAHWA RUMAH, MOBIL, PACAR, KELUARGA, ILMU PENGETAHUANNYA, KEKAYAANNYA BAHKAN DIRINYA SENDIRI YANG SELAMA INI DIBANGGAKANNYA ITU TERNYATA TIDAK BERARTI APA-APA BAGI KEHIDUPAN ABADINYA. PADA SEBUAH PERISTIWA YANG MENGHANTAM KESADARANNYA, DIA DIPAKSA UNTUK MENGAKUI BAHWA HIDUPNYA GAGAL DAN SIA-SIA. APA YANG DIMILIKINYA, APA YANG DICINTAINYA DAN APA YANG DIHARAPKANNYA BISA MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN DAN KESELAMATAN TERNYATA NOL BESAR. SESEORANG MERASA TERASING, SEPI DAN TERSINGKIR MESKIPUN DI SANA BANYAK SAHABAT DAN KELUARGA YANG MENGHIBURNYA. HATINYA KOSONG, MERANA DAN KETAKUTAN.

Kita berteduh di bawah sebuah dunia benda-benda dan diri jasmani yang sesungguhnya tidak kekal. Yang kekal justeru adalah apa yang selama ini kita anggap sebagai hal yang gaib. Hal yang menakutkan dan hal yang bersifat mitos dan klenik. Kita enggan memasuki wilayah-wilayah tersebut karena kita merasa tidak senang dan nyaman. Padahal, senang dan nyaman yang bisa merasakan adalah jasad, tubuh dan fisik yang nantinya akan mengalami sakit, renta dan sirna ditelan kematian. Jasad kita akan dikubur atau dibakar… Musnah dimakan cacing tanah atau diterbangkan angin.

Tidak ada sesuatu yang abadi kecuali perubahan. Akhirat adalah sebuah zona metafisik dan gaib yang senantiasa berubah sesuai dengan garis kodrat yang diciptakan oleh manusia sendiri. Yang bisa merasakan yang abadi ini adalah RUH kita. Ruh adalah bagian yang paling hakiki, paling esensial, paling substansial, paling sejati pada diri kira. RUH senantiasa bermeditasi dalam keheningan dan berada di sebuah tempat tersuci di dalam diri manusia. Karena tidak pernah bohong, tidak mengalami kematian, senantiasa menyuarakan kebenaran maka RUH disebut dengan GURU SEJATI atau AKU SEJATI.

Meskipun jasad berada di dunia sekarang ini, namun RUH senantiasa berada di dalam genggaman-Nya dan beradanya RUH melampaui ruang dan waktu dunia. Jadi RUH senantiasa dalam kondisi tetap hidup abadi sepanjang masa. Setelah ditiupkannya RUH dan kemudian “menjadi” manusia maka RUH ini tidak pernah mati lagi untuk selama-lamanya. RUH menikmati dunia dan akhirat, mengalami berbagai macam baju kesadaran akal dan hati manusia. RUH tidak mengenal pintar dan bodoh, berilmu maupun tidak berilmu, tidak mengerti cinta dan benci, tidak merasakan susah dan senang. RUH kita senantiasa ADA karena sesungguhnya RUH adalah bagian emanasi dari Dzat Tuhan Yang Maha Abadi.

Kalau kita menggunakan alat Elektro Encepalograph (EEG) untuk mengukur gelombang otak manusia maka kita tetap tidak akan mendapati kesadaran ruh. KESADARAN RUH akan terbangun saat semua aktivitas otak kita berhenti total, yaitu saat kita mengalami KEMATIAN. MATINYA JASAD FISIK DAN OTAK TIDAK BERARTI MATINYA RUH. Kesadaran Ruh(ani) akan terjaga dan bangun secara otomatis saat kita tidak lagi berpikir apa-apa. Saat kita tidak merasakan perasaan apa-apa. Kesadaran Ruh tidak akan bisa dilatih dengan hanya melakukan aktivitas olah raga, olah pikir maupun olah rasa. Kesadaran ruh adalah kesadaran berketuhanan yang bisa diusahakan dengan upaya yang sungguh-sungguh bertentangan dengan apa yang kita pikirkan, apa yang kira rasakan dan apa yang kita harapkan. Sebab ruh tidak berpikir, ruh tidak merasakan apa-apa dan ruh tidak berharap apa-apa.

Energi ruh kita berasal dari mana? Energi ruh kita berasal dari ENERGI TUHAN. Yang tidak pernah akan habis sekian triliun tahun, yang tidak akan pudar meskipun sudah menyinari sekian milyar batin manusia. Energi ruh abadi selama-lamanya karena selalu terpancar dari Dzat-Nya yang Maha Sempurna. Karena sifatnya yang abadi, maka ruh tidak mengenal surga dan neraka. Surga dan neraka adalah Ciptaan Tuhan, sementara RUH adalah bagian dari Dzat Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menempatkan diri-Nya sendiri di dalam tempat surga dan neraka. Sehingga benar bila nanti setelah alam semesta ini digulung, maka Ruh kita akan kembali di dalam Diri-Nya. Surga dan neraka “diciptakan” sendiri oleh manusia, untuk mereka yang masih berkeinginan untuk melanjutkan kehidupannya setelah kehidupan nyata di bumi ini berakhir. Ini wilayah gaib yang tercipta bagi mereka yang BELUM PUAS DENGAN KEHIDUPAN DUNIA ini. Bagi mereka yang sudah puas dan bersyukur diperkenankan Tuhan untuk hidup di dunia ini saja, maka tempat tinggal mereka selanjutnya tidak di surga atau neraka. Mereka akan MENJADI TUHAN sebagaimana AWALNYA DULU SEBELUM SEMUANYA ADA KECUALI DZAT-NYA.

Maka cermatilah apa sebenarnya keinginan kita sekarang? Apa ingin keadilan, kesamaan, kesetaraan dengan yang lain karena merasa bahwa di dunia ini dia merasa diperlakukan secara semena-mena, tidak setara dan sederajat dan masih merasa bahwa kebahagiaan dan kenyamanan patut diperjuangkan. Orang yang masih berkeinginan melanjutkan perjuangan menuntut keadilan, Tuhan akan mengganjarnya dan membalasnya dengan SURGA atau NERAKA. Dia akan mendapatkan hukum sebab dan akibat dari buah niat, perbuatan dan amalnya. Keinginan adalah zona pikiran, perasaan dan hati. Sehingga masih bersifat “JASAD FISIK” BUKAN LAHIR DARI KESADARAN RUH. Coba tanya pada orang-orang yang sudah mati dan kesadaran ruhnya sudah hidup, apa yang diinginkannya? Jawabannya PASTI BUKAN INGIN MASIH SURGA LAGI… RUH PASTI TIDAK INGIN APA-APA LAGI KARENA SUDAH MENYATU DENGAN TUHAN.

Maka nanti di Surga atau neraka adalah tempat bagi DIRI-DIRI MANUSIA YANG MASIH MEMILIKI KEINGINAN-KEINGINAN. Keinginan akan terpuaskan sesaat, namun kemudian akan bosan dan tidak kekal. Sehingga surga dan neraka adalah tempat yang akan mengalami kehancuran dan tidak abadi. Satu-satunya Yang Abadi adalah Dzat Tuhan. Yang lain tidak akan pernah abadi dan akan mengalami penyusutan dan pemudaran sebagaimana hukum keinginan. Lihatlah, bacalah dan hayati maknanya secara mendalam apa yang ada di surga dan neraka menurut Kitab Suci: di surga ada wanita tercantik yang siap ditiduri setiap saat, di surga ada istana megah dan membahagiakan: Maka bisa disimpulkan DI SURGA MASIH ADA KEINGINAN DAN KEINGINAN ADALAH WUJUD FISIK MANUSIA YANG SIFATNYA SEMENTARA.

Bertanyalah kepada Para Nabi dan Rasul sepanjang masa mulai Adam AS, Musa AS, Ibrahim AS, Isa AS hingga Muhammad SAW dulu, apa yang Anda inginkan dalam hidup ini… Masuk Surga dan Hidup Bahagia atau ingin yang lain? Saya berani bertaruh mereka tidak akan menjawab apa-apa. kenapa demikian? Sebab dia tidak akan menggadaikan hidup demi jasadnya untuk memperturutkan keinginannya. Keinginan selalu bersifat FISIK sehingga tidak mungkin para rasul yang suci itu ingin masuk surga atau neraka. Coba tawarkan kepada mereka satu ton emas dan kekuasaan dunia agar mereka meninggalkan keyakinan TAUHID, mereka pasti akan menolaknya mentah-mentah, sebagaimana pernah dikatakan MUHAMMAD SAW: “SEKIRANYA KAU LETAKKAN MATAHARI DI TANGAN KANANKU DAN BULAN DI TANGAN KIRIKU AGAR AKU MENINGGALKAN KEYAKINANKU, MAKA AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA. AKU MEMILIH MATI TERBAKAR HABIS DEMI KEYAKINANKU.

Para nabi dan rasul itu adalah MANUSIA yang berjalan TANPA KEINGINAN sebab KEINGINAN ADALAH PENDERITAAN dan ketidakkekalan. MEREKA berjalan dengan KESADARAN RUH-NYA. Mereka adalah manusia seperti kita juga. Bila mereka bisa, kenapa kita tidak mencoba?

CARA RAHASIA

Bagaimana membangunkan kesadaran ruh? Jawabnya adalah selalu mengingat Tuhan (Dzikir). Dzikir adalah cara rahasia yang mampu menembus kesadaran jasad dan fisik untuk masuk ke ruang KESADARAN RUH. Dzikir adalah tombak yang mampu menembus berbagai hijab/tirai pembungkus jati diri manusia yang palsu. Dzikir itu bukan sekedar mengawal syariat manusia itu agar betul dan bergerak di atas Tauhid kepada Allah SWT semata-mata. Tetapi ia juga bertujuan untuk memaastikan kita agar senantiasa mengingati dan berikhtiar untuk melekatkan diri kita dengan sifat-sifat yang ada kepada Allah.


Dzikir juga penawar untuk mengobati batin, pembersih batin, mensucikan batin sekaligus dan membuka CAHAYA KALBU serta menghancurkan darah kotor di ujung jantung, yang dinamakan ”Istana Setan”. Apabila seluruh batin kita sudah terselimuti dengan Dzat-Nya, maka seluruh batin kita akan cerah dan dapat berfungsi dengan baik seperti malam hari diterangi bulan purnama. Orang yang dzikir mata dan telinga batinnya akan terbuka dengan terang.

Apabila hati sudah disuluhi cahaya-NYA, maka setiap saat kita mengalami makrifat. Proses pemancaran (wujud) cahaya dzikir itu seperti proses pemancaran cahaya matahari yang tertimpa ke atas bulan dan memancarkan cahaya yang nyaman ke bumi. Apabila sampai ke tahap ini, seseorang dapat mengetahui sesuatu dengan mata batinnya yang tidak dapat ditangkap mata, dapat ditangkap oleh telinga. Dia mendengar dan faham segala gerak-gerik alam, hewan, serangga, daun, kayu, ombak, hembusan angin, jin, malaikat. Dirinya dapat mengetahui sesuatu yang terjadi meskipun dia berada di alam tidur. Dia juga tahu apa yang akan terjadi. Pendeknya segala rahasia akan terbaca dengan jelas!

Mereka dapat bertahan lapar, haus dan menahan sakit dan penderitaan-penderitaan fisik yang lain. Tubuh mereka menjadi KEBAL dari duka, sakit dan pedih. Kita sering mendengar para para manusia yang sampai di tahap perjalanan spiritual ini mampu tidak makan bertahun-tahun dan tidak sakit bertahun-tahun. Tuhan tidak sembarangan memaparkan bagaimana kekuatan para Pemuda Ashabul Khafi: tujuh orang pemuda yang semuanya anak raja tidur selama 309 tahun karena amal sucinya. Mereka adalah utusan Tuhan, yang merupakan ahli dzikir. Logika awam, puluhan hari tanpa makan dan minum akan mengakibatkan manusia mati. Tetapi mereka berada dalam gua yang pintunya tertutup rapat dan tanpa memakan apa-apa.

Apakah rahasia mereka dapat bertahan dan hidup begitu lama. Apakah yang mereka makan utk meneruskan hayat hidup mereka? Jawabnya tidak lain dan tidak bukan ialah dzikir. Mereka ingat kepada Allah dan menjadikan dzikir sebagai santapan ruh. Kita hanya akan ingat Tuhan saja, tanpa yang lain, termasuk melupakan penderitaan fisik seperti lapar, haus, sakit, takut atau bimbang. Dengan tidak putus mengingat-Nya maka Dia juga tidak putus mengingat kita. ”JIKA ENGKAU INGAT AKU, AKU INGAT ENGKAU.”….”DAN HANYA PADA TUHANLAH HENDAKNYA KAMU BERHARAP..”

Kelebihan dan keistimewaan memang milik kita semua. Milik mereka yang tidak lagi punya KEINGINAN FISIK atau JASAD. Yang terjadi kepada para Nabi, Rasul dan Manusia Suci lain membuktikan walaupun dibakar api, IBRAHIM AS tidak hancur. Ia kebal karena dia selalu mengingat-NYA. NUH AS juga aman meski tsunami besar menghanyutkan isi bumi saat itu. MUSA AS juga selamat melintasi laut dari kejaran Fir’aun. ”Kekeramatan atau kemuliaan itu datang tanpa disadari. Karamah seseorang itu sangat biasa… dan hanya orang lain yang berada di luar kehidupannya yang menganggapnya demikian.”

TALI SIMPUL

HIDUPKAN KESADARAN RUH DALAM DIRI KITA. RUH ADALAH DIRI SEJATI, AKU SEJATI, INGSUN SEJATI, GURU SEJATI KITA. RUH ADALAH SEMAR YANG HAKEKATNYA TETAP HIDUP. MENGHAYATI HAKEKAT HIDUP ADALAH MENGHAYATI HIDUPNYA RUH DALAM DIRI MANUSIA.

Ajaran Jawa yang membahas adanya RUH sebagai limpahan dan pancaran emanasi Dzat Tuhan, ada dalam aksara makna HANACARAKA:

HA : HANANIRA SEJATINING WAHANANING HYANG.
NA : NADYAN NORA KASAT MATA PASTI ANA.
CA : CAREMING HYANG YEKTI TAN CETHA WINECA.
RA : RASAKENA RAKETE LAN ANGGANIRA.
KA : KAWRUHANA JIWANIRA KONGSI KURANG WEWEKA.
DA : DADI SASAR YEN SIRA NORA WASPADA.
TA : TAMATNA PRABANING HYANG SUNG SASMITA.
SA : SASMITANE KANG KONGSI BISA KARASA.
WA : WASPADAKNA WEWADI KANG SIRA GAWA.
LA : LALEKNA YEN SIRA TUMEKENG LALIS.
PA : PATI SASAR TAN WUN MANGGYA PAPA.
DHA : DHASAR BEDA KANG WUS KALIS ING GODHA.
JA : JANGKANE MUNG JENAK JENJEMING JIWARAGA.
YA : YATNANA LIYEP LUYUTING PRALAYA.
NYA : NYATA SONYA NYENYET LABETING KADONYAN.
MA : MADYENG NGALAM PANGRANTUNAN AYWA SAMAR.
GA : GAYUHANING TANNA LIYAN JUNG SARWA ARGA.
BA : BALI MURBA MISESA ING NJERO NJABA.
THA : THAKULANE WIDADARJA TEBAH NISTHA.
NGA : NGARAH ING REH MARDI-MARDININGRAT

RUH ADALAH GURU SEJATI YANG SETIA MEMBERIKAN ‘PIWULANG SEJATINING URIP’.

Sumber : wongalus,2009

Senin, 30 November 2009

METAFISIKA KESATUAN RUH

Bagian paling sejati dari manusia adalah ruh. Keabadian ruh adalah paling nyata terlihat pada mereka yang telah menggunakan kesadaran makrifatnya dengan lurus. Bismillah…

Ruh tidak melekat pada tubuh manusia. Meskipun dia dikatakan berada “di dalam” diri manusia, namun ia tidak sungguh-sungguh dibatasi oleh tubuh yang berada di dalam ruang dan waktu. Ruh adalah sebuah bentuk yang tanpa waktu dan berada di luar waktu, yang berlaku kekal dan abadi sejak sebelum penciptaan alam. Untuk dikenali, ruh kemudian “masuk” ke dalam tubuh/jasad yang ada di dalam ruang dan waktu.

Bisa dikatakan ruh menjelma menjadi manusia yang berjasad dan berjiwa. Bentuk dan rupa ruh hingga kini tidak diketahui. Apakah bentuknya seperti manusia namun seperti bayangan belaka ataukah seperti asap, tidak diketahui. Kita hanya bisa mengatakan bahwa ruh adalah bagian manusia yang paling halus. Kenapa tidak diketahui? Itu sebab kita tidak pernah melihat, mendengar, meraba ruh sebelumnya. Sehingga bentuknya tidak ada di dalam gudang memori manusia. Pada tulisan terdahulu yang berjudul HIDUP YANG SEMENTARA telah sedikit diulas bahwa pengetahuan kia tentang ruh itu bukan berasal dari pengamatan/pengalaman.

Pengetahuan tentang ruh sudah diinstal secara otomatis ke dalam diri manusia. Manusia tinggal membuka program dan kemudian mengaplikasikannya. Alat untuk mengetahui tentang ruh adalah akal budi yang merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Meskipun mendiskusikan soal ruh adalah sebuah upaya yang sia-sia, namun ruh juga tidak sepenuhnya menutup diri dari pengetahuan akal. Adalah watak dasar manusia untuk ingin tahu tentang segala hal, termasuk soal ruh ini. Ruh kemudian diletakkan sebagai barang atau benda yang berada di “luar” diri dan kemudian diteliti secara obyektif.

Salah satu cara untuk mendekati keberadaan ruh ini adalah menganalisa mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE yang kemudian memberikan banyak pengetahuan tentang ruh. Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup saat tubuh jasad fisik ini tidak berfungsi. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Bagaimana sejarah awal “kesatuan” antara ruh manusia dengan ruh Tuhan? Sebenarnya secara logika, pertanyaan ini pun juga mengandung kesalahan. Kenapa juga kita selalu memisahkan antara dua ruh yang sesungguhnya cuma satu? Inilah akibatnya bila kita menggunakan akal untuk menakar sebuah perkara. Adalah watak akal untuk memilah-milah/ menganalisa/memotong-motong obyek sebagaimana halnya sebuah benda atau barang saja. Padahal obyek kajian kita kali ini adalah ruh yang bersifat metafisis! Ah, sebelum pembicaraan kita mengenai ruh ini menjadi meaningless/tidak bermakna tidak salah kita teruskan saja membaca tanpa apriori terlebih dulu. Jangan dulu ditanya benar atau salah pendapat saya kali ini. Yang jelas, ayo dibaca saja tanpa prasangka dulu baru kemudian dikritik. Monggo, lha wong ini cuma pendapat/opini kok.

Semua hal terjadi karena sebuah proses. Bumi, matahari, bulan, galaksi tercipta karena proses ledakan besar. Begitu pula dengan ruh. Ruh juga mengalami proses penciptaan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Syahdan diungkap dalam “kitab teles” kasunyatan, awalnya hanya ada satu dzat saja yang Ada. Dzat itu tidak punya nama sebab dia tidak dikenal. Lha siapa yang mengenal kalau hanya satu dzat saja? Bukankah nama-nama tersebut ada karena ada dua atau lebih sesuatu sehingga perlu diberi nama? Coba kalau hanya satu, maka tidak perlu dberi nama. Lha siapa juga yang memberi nama kalau hanya ada satu diri di “alam awang uwung?” Boleh dikatakan saat itu hanya ada satu ruh saja. Ruh yang satu ini memiliki energi kreatif yang berlimpah. Dia kemudian ingin “dikenal”.

Hmm… kata “dikenal” ini sebenarnya tidak tepat. Kata ini sama sekali tidak mewakili apa yang sebenarnya “diinginkan”-Nya. Apalagi kata “dikenal” sudah mengalami pemiskinan makna seperti abad sekarang. Dia bukanlah selebritis sebagaimana yang kita kenal di dunia sinetron. Namun, apa ada kata lain yang mewakili ya? Yang jelas, Dia Yang Satu ini kemudian berkata “Kun Fayakun”… “terjadilah”… kata ini mengandung maksud bahwa Yang Satu ini ingin menjadi Yang Banyak. Yang Satu ingin mengejawantah menjadi Yang Banyak. Yang banyak ini kemudian menjadi partikel-partikel mulai yang terkecil yang tingkat kesadarannya sederhana hingga yang paling sempurna tingkat kesadarannya.

Yang Satu oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kesendiriannya. Ruh Yang Satu mulai berpindah dari situasi “berada di luar dirinya” ke dalam situasi “berada bagi dirinya.” Sebab “berada bagi dirinya” bisa terjadi karena ada kesadaran-kesadaran Yang lain dari Yang Satu. Perlu diingat bahwa yang terjadi saat itu adalah Ruh Yang Satu kemudian membebaskan dirinya untuk diinterpretasi oleh Yang Lain Yang Bukan Diri-Nya. Proses ini ibarat manusia menciptakan komputer yang cerdas yang bisa melakukan perlawanan termasuk pengakuan bahwa komputer itu bikinan manusia. Setelah proses Kun Fayakun tersebut: Kini sudah ada dua ruh. Ruh Yang Satu dan Ruh Yang Lain.

Kehendak Ruh Yang Satu kemudian memasrahkan kepada Ruh Yang Lain untuk berkarya. Yang terjadi dalam peradaban manusia saat itu adalah lahirnya kesadaran bahwa dia berbeda dengan alam sekitarnya. Dia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kosmos-nya alam. Dia beranggapan manusia harus memiliki kehendak bebas sendiri dan kesadaran inilah yang akhirnya membuat dia merasa memiliki otonomi diri yang tidak ada korelasinya dengan Tuhan. Kehendak rasional manusia kemudian mengalami subyektivasi. Manusia menjadi hipokrit, dipenuhi selubung nafsu dan kenistaan. Nilai-nilai diputarbalikkan sedemikian rupa karena semakin tidak menyadari dunungnya. Eksistensinya menjadi absurd dan konyol. Itu karena dia tidak memahami bahwa awal muasal semua yang bereksistensi ini sejatinya hanya Yang Satu.

Mulailah manusia menata peradaban berdasarkan bentuk-bentuk hidup dengan prinsip subyektivitas. Kenapa subyektif? Sebab dia tidak melibatkan Yang Satu dlam proses penciptaan selanjutnya….. Bentuk dan nafsu-nafsu manusiawi dilembagakan secara formal. Diciptakan kebiasaan, diciptakan adat istiadat, diciptakan peradaban, diciptakan filsafat hidup dan ilmu pengetahuan, diciptakan tata kenegaraan, diciptakan sistem nilai-nilai yang dijadikan perangkap eksistensi manusia. Merasa hidup dalam sosialitas yang belakangan diketahui sangat mengerikan akibat ulahnya sendiri itu, manusia kemudian menciptakan agama! Dengan agama, manusia sebenarnya sedang membuat dogma dan mitos-mitos baru.

Siapa bilang agama diciptakan Tuhan untuk manusia? Manusia sendirilah yang menciptakan agama untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak beragama. Tuhan tidak butuh agama. Jangan libatkan urusan Tuhan untuk mengungkung kebodohannya. Tuhan terlalu suci dari dosa-dosa manusia yang terbiasa merekayasa kebutuhan-kebutuhan dirinya dan merasa seolah-olah paling tahu apa yang dia butuhkan. Manusia memang sudah sedemikian egois. Astaghfirullah!!!

Inilah tahap yang terjadi saat ini. Manusia sengaja melemparkan dirinya, menjauh sejauh jauhnya dari kesatuan dengan Ruh Yang Satu. Diri manusia yang menjelma dalam ego perorangan memasuki kawasan yang lebih rumit lagi. Ruhnya terpendam di dasar diri dan tidak mampu untuk bergerak. Kecuali apabila nanti jasad manusia sudah dinyatakan mati, maka nyawa ruh akan kembali menyatu dengan Yang Satu. Sebelum mati, diri manusia membuat suatu tata tertib yang lebih rumit lagi. Manusia harus berkeluarga, manusia harus bermasyarakat, manusia harus bernegara, manusia harus memiliki pandangan hidup yang benar dan lurus, manusia hidupnya harus melaksanakan rencana-rencana A, B, C, D, dan seterusnya….

“Keharusan-keharusan” itu secara sengaja kemudian menciptakan peradaban dan sejarah dunia. Sejarah dunia yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, egoisme dan pemuasan nafsu jasad saja. Bila proses penghancuran jagad cilik dan jagad gede oleh si jagad cilik ini terus berlangsung maka jangan harap ruh manusia akan mampu menemukan kesatuan dengan ruh Yang Satu. Dibutuhkan sebuah proses penghancuran kesadaran secara massif alias proses laku utama: “Mati dalam Hidup” sehingga manusia menemukan kembali jati dirinya. Inilah jalan makrifat tertinggi yang harusnya ditempuh oleh kita semua: KAWULO DENGAN GUSTI SEBENARNYA MANUNGGAL DAN JUMBUH. SEBAB SEMUANYA ASALNYA DARI YANG SATU DAN KESATUAN ITU KINI SUDAH DIHANCURKAN DAN DIRUSAK OLEH MANUSIA.

Dalam kitab suci kata “ruh” itu selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal, bukan jamak. Juga dinyatakan sebagai ruh-Nya. Tidak ada satupun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ruh itu diciptakan oleh Tuhan. Sebab Ruh-Nya hanya satu yang kemudian nitis kepada manusia agar manusia dapat membangkitkan kesadaran dirinya sendiri bahwa dia adalah citra-Nya. “Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Ini salah satu ayat dalam kitab suci yang memaparkan bahwa Yang Satu (Tuhan) mentamsilkan “tiupan” ruh ke dalam diri manusia. Nah, karena Tuhan tidak bermulut, maka kita perlu memahami kata “tiupan” itu sebagai limpahan, pancaran, emanasi ruh-Nya. Itulah sebabnya semua mahluk tidak terkecuali jin dan malaikat dulu diminta untuk sujud kepada manusia. Kenapa? Sebab manusia adalah limpahan Ruh Tuhan. Ia selalu suci, tidak tersentuh ego karena dipancarkan dari “pribadi” yang menjadi manifestasi yang menyejarah di bumi.

Jasmani manusia kini jumlahnya bermilyar-milyar yang terbentang dari barat ke timur, namun berapa jumlah manusia yang menyadari bahwa dia sejatinya adalah diri ruhani yang merupakan pancarah Ruh-Nya? Teramat sedikit dan mungkin bisa dihitung dengan jari dan yang kita kenal hanyalah para Rasul, nabi, wali, avatar, atau apapun namanya yang berperan untuk kembali menuntun umat manusia agar menyadari perannya sebagai pribadi manifestasi Ilahi. Pribadi yang tidak menyadari perannya sebagai manifestasi Ilahi berakibat fatal.

Dunia akan kiamat dan yang mampu menyelamatkan hanya manusia yang kembali menjadi pribadi yang terkendali oleh ruh. Jika jiwa/nafs merupakan substansi yang menyebabkan makhluk menjadi hidup dan menjalankan kodratnya maka ruh merupakan substansi yang mampu mewujudkan iradat manusia. Bila manusia hidup memiliki kodrat dan iradat, maka iradat manusia hanya bisa bekerja dengan benar bila dibimbing oleh ruh. Iradat yang benar bukan hasil dorongan dari luar yang palsu, tapi tumbuh dari dasar pribadinya.

Ingatlah bahwa manusia sudah dibekali dengan kesempurnaan penciptaan. Dibekali dengan sarana dan prasarana, baik fisik dan metafisik untuk manunggal kembali dengan iradat-Nya. Bukankah KAWULO SESUNGGUHNYA ADALH GUSTI???? “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Tapi sedikit sekali kamu yang bisa bersyukur!”

Terakhir, memohon maaf bila interpretasi tentang ruh ini ternyata salah dan melenceng dari kebenaran. Itu semata-mata proses yang saya lakoni masih sangat terbatas dan semoga akan terus berproses hingga akhir hayat. Sehingga tercapai benar-benar pengetahuan makrifatullah tentang METAFISIKA RUH YANG SEJATINYA HANYA SATU DAN TIDAK ADA YANG LAIN. “Timur dan Barat adalah kepunyaan Allah. Maka kemana saja menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Tahu”

Sumber : (Wong Alus)

Kamis, 29 Oktober 2009

PETA MASA DEPAN DUNIA TAHUN 2020

Tanggapan untuk tulisan Peter Rosler Garcia
Oleh: M. Hafidz Abdurrahman

Laporan yang dilansir oleh National Intellegence Council (NIC), tentang Mapping the Global Future (Pemetaan Masa Depan Dunia), selain untuk memberikan gambaran secara umum tentang tantangan yang akan dihadapi oleh Amerika, juga sebagai langkah antisipatif yang hendak dilakukan dalam rangka mewujudkan peta masa depan dunia yang mereka kehendaki. Cina, sebagai kekuatan baru dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta keteguhannya berpegang kepada ideologi Sosialis, ditopang dengan jumlah demografis yang besar dan wilayah geografis yang luas, benar-benar menjadi ancaman real bagi Amerika, dan negara-negara Barat-Kapitalis lainnya. Di sisi lain, India disebut-disebut sebagai negara berikutnya, dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang signifikan, serta jumlah penduduk yang besar akan berpotensi menjadi kekuatan baru di masa depan.

Yang menarik adalah adanya skenario lain, yaitu munculnya Khilafah baru pada tahun 2020, yang juga memprediksi Indonesia sebagai salah satu bagian dari kekhilafahan baru tersebut. Dalam konteks yang terakhir inilah, Peter Rosler Garcia merekomendasikan agar Indonesia menjadi negara besar, maka Indonesia harus tetap bersikap moderat, tidak berpikiran sempit, menstabilkan demokrasi dan HAM. Itu beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari pandangan dan laporan di atas.

Cina sebagai Ancaman Real Amerika

Diakui atau tidak, sampai saat ini Cina masih merupakan satu-satunya negara Sosialis yang terbesar, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet. Setelah reformasi Deng Xiopeng, Cina memang telah menganut ekonomi pasar, artinya dalam bidang ekonomi Cina telah melakukan reformasi, atau lebih tepatnya adaptasi Sosialisme dengan Kapitalisme, meski secara politik Cina tetap tidak berubah. Pendekatan yang dilakukan oleh Cina ini persis seperti yang pernah dilakukan oleh Amerika dekade 50-an abad ke-20 M, saat sejumlah penguasa pro-Amerika mengumumkan apa yang ketika itu dikenal dengan istilah State Socialism (Sosialisme Negara). Sebut saja, Gamal Abdul Naser (Mesir), dan Ahmed Ben Bellah (Aljazaer). Intinya, Kapitalisme dibalut dengan ide-ide Sosialisme. Nah, justru dengan adaptasi seperti ini, Cina telah menjelma menjadi kekuatan besar dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

Upaya Amerika untuk memukul Cina memang terus dilakukan, tetapi nyaris tidak berhasil. Perang Vietnam yang dilakukan oleh Amerika pada zaman Nixon, dengan maksud untuk memancing keterlibatan Cina dalam membela Vietnam, sehingga kelak bisa dijadikan sebagai justifikasi bagi Amerika untuk menggebuk Cina ramai-ramai ternyata telah dibaca oleh Mao Che Thung. Setelah itu, melalui penguasa Kamboja yang pro-Amerika, Norodom Sihanok, Amerika pun melakukan hal yang sama, tetapi gagal menyeret Cina. Peperangan itu pun akhirnya berhenti setelah Mao meninggal, dan diganti penguasa berikutnya. Ketika itu, Cina dianggap sebagai ancaman setelah melihat ambisi Mao untuk melakukan ekspansi ke luar. Berbeda dengan penggantinya. Maka, praktis tidak ada konflik besar yang menyeret Cina, seperti pada zaman Mao. Meski tidak berarti ancaman Cina telah pudar.

Maka, Amerika terus memprovokasi Taiwan agar menjadi duri di dalam daging bagi Cina. Secara politis, Amerika memang mengakui kebijakan One China, satu Cina, tetapi kenyataannya upaya-upaya Amerika secara terbuka melakukan kunjungan ke Taiwan, dan menerima kunjungan penguasa Taiwan di Amerika jelas membuktikan hal itu. Ditambah lagi kunjungan Clinton yang terakhir ke Taiwan, beberapa hari yang lalu. Semuanya itu, tidak lain adalah agar konflik Cina-Taiwan terus bergolak. Dengan begitu, Cina akan terus disibukkan dengan persoalan domestiknya, dan suatu ketika saat keinginan rakyat Taiwan bulat untuk memisahkan diri dari Cina, yang didukung dengan momentum yang tepat, maka semuanya itu akan menjadi justifikasi bagi Amerika untuk menyerang Cina. Cina juga begitu, terus-menerus meningkatkan kemampuan militernya, termasuk persenjataan nuklirnya guna menghadapi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi, khususnya dalam menghadapi ancaman Amerika.

Krisis nuklir Korea Utara juga sama, hanya menjadi justifikasi bagi Amerika untuk membidik Cina. Demikian juga dengan isu jaringan al-Qaedah di Asia Tenggara, atau Jamaah Islamiah, dan terakhir keinginan kuat Amerika untuk menjadikan perairan di Selat Malaka sebagai zona bersama, dimana Amerika menjadi salah satu pengawasnya adalah upaya-upaya yang kelak bisa dimanfaatkan untuk ke sana. Konflik India-Pakistan, baik menyangkut isu perbatasan termasuk Kashmir, maupun isu nuklir, juga telah dijadikan justifikasi oleh Amerika untuk kepentingan yang sama. Ketika Partai Baratha Janathan, pimpinan Vajpayee, yang pro-Amerika menang pada akhir dekade 90-an, dan berhasil menduduki kursi pemerintahan, didukung dengan pemerintah Pakistan yang secara tradisional memang pro-Amerika, maka Amerika berkeinginan untuk menjadikan kedua negara ini sebagai garda terdepan untuk menghadapi Cina, yang ditopang dengan jumlah populasi dan persenjataan nuklirnya yang hampir menyamai Cina. Kalaupun tidak, setidak-tidaknya bisa menjadi justifikasi bagi masuknya Amerika di kawasan tersebut, yang kelak bisa memudahkan langkahnya untuk menghabisi Cina.

Pendudukan Amerika terhadap Afganistan juga telah dibaca Cina, sebagai situasi yang bisa mengancam keamanannya. Maka, Cina pun segera mengirim pasukan ke kawasan tersebut. Intinya, Cina memang merupakan ancaman real bagi Amerika. Ini semakin kelihatan, ketika Uni Eropa (Metro TV, 3/3/05) mencabut embargonya terhadap Cina, maka kontan saja anggota Konggres Amerika mengancam akan mengembargo Uni Eropa.

Khilafah sebagai Ancaman Potensial

Nah, setelah era Perang Dingin, kutub Kapitalis termasuk di dalam Amerika dan Uni Eropa, memang kehilangan musuh real (the real enemy). Selain Cina, Korea Utara, dan Kuba, barangkali the real enemy tadi sulit ditemukan. Di sisi lain, bukan berarti mereka tidak menyadari adanya musuh potensial. Mereka sadar, hanya saja kepentingan mereka tidak berbeda. Sebut saja dunia Islam, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Bagi Amerika dan Uni Eropa khususnya, termasuk di dalamnya Inggris, dunia Islam adalah ancaman potensial. Mengapa? Karena Islamnya. Sejak runtuhnya Khilafah, 3 Maret 1924 sampai saat ini, dunia Islam memang masih tetap terkoyak dan belum bangkit menjadi kekuatan baru. Tetapi, kesadaran itu mulai tumbuh dan terus membesar, yang terlihat dari semakin semaraknya tuntutan untuk mengembalikan syariah dan Khilafah di hampir 30 negara.

Dalam menghadapi ancaman potensial inilah, Amerika terus berusaha untuk melakukan berbagai manuver politik, termasuk di antaranya menghadirkan jumlah pasukan yang sangat besar di Timur Tengah, tidak kurang dari 148 ribu personil di Irak dan Qatar, belum lagi di Saudi dan sekitarnya. Pada saat yang sama, terus menyulut konflik Israel-Palestina, yang terakhir Suriah-Lebanon. Semuanya itu tentu dengan maksud untuk menyibukkan kaum Muslim dengan persoalan domestik mereka. Ini strategi Amerika. Bahkan, dengan tegas Donald Rumsfeld pernah menyatakan, bahwa pendudukan Amerika di Irak bukan untuk menggulingkan Saddan Hussen semata, tetapi untuk mengembalikan demokrasi di Irak dan membendung kembalinya Khilafah. Karena itu, Amerika sejak awal tegas-tegas menolak pemberlakukan Islam baik sebagai asas maupun hukum negara di sana, meski mayoritas rakyatnya menghendaki hal itu.

Sekalipun kondisi ini, di satu sisi bisa menguras energi Amerika yang sangat besar. Inilah yang disadari oleh Inggris. Karena itu, meski sama-sama melakukan pendudukan di Irak, Inggris mempunyai kepentingan yang berbeda. Inggris berkeinginan untuk menguras energi Amerika, di satu sisi. Di sisi lain, Inggris ingin menggali kuburan Amerika di Irak, agar kekuatan Amerika semakin melemah, didukung dengan kampanye negatif terhadap Amerika yang memicu sentimen anti-Amerika di kawasan tersebut. Sementara itu, dengan sikapnya anti pendudukan Amerika di Irak, Uni Eropa, khususnya Perancis, bukan berarti tidak setuju dengan tindakan Amerika, atau tidak mempunyai kepentingan terhadap Timur Tengah. Yang diinginkan oleh Uni Eropa adalah, bahwa setelah posisi politiknya di dunia ketiga, khususnya dunia Islam, Uni Eropa lebih memilih sikap yang berlawanan dengan Amerika guna menarik simpati dunia Islam. Jika berhasil, maka sentimen anti-Amerika itu akan membuahkan perlawanan, yang pada akhirnya dunia Islam tidak lagi lari kepada Amerika tetapi ke Uni Eropa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Uni Eropa terhadap Cina. Dalam kasus Cina, Uni Eropa ingin mengambil keuntungan ekonomi dan politik dari Cina dalam kasus pencabutan embargonya terhadap Cina.

Indonesia, dan Dunia Islam

Selama dunia Islam dan Indonesia khususnya tetap berpegang pada akar keislamannya, karena mayoritas penduduknya adalah Muslim, maka selama itu tetap akan menjadi ancaman potensial bagi Amerika dan negara-negara Barat yang lainnya. Ancaman potensial itu akan menjadi ancaman real, jika dunia secara keseluruhan bersatu dan menjelma menjadi kekuatan baru, yaitu ketika mereka berada di bawah satu payung negara Khilafah, sebagaimana Uni Eropa bagi Amerika saat ini. Mahatir Muhammad, dalam banyak kesempatan, baik ketika masih menjabat sebagai perdana menteri maupun setelah lengser, sering menyatakan keprihatinannya atas kondisi ummat Islam dan dunia Islam saat ini. Intinya, Mahatir mendambakan persatuan ummat Islam, agar ummat ini menjadi kuat, meski barangkali Mahatir belum mempunyai gambaran yang real tentang persatuan seperti apa yang bisa mengubah potensi ummat Islam ini menjadi kekuatan raksasa. Artinya, kesadaran itu sudah ada, tinggal formatnya seperti apa? Dan ternyata jawabannya jelas ada pada Khilafah.

Karena hanya Khilafahlah yang bisa menyatukan seluruh dunia Islam. Sebab, Khilafah bukan negara bangsa, sehingga seluruh bangsa Muslim yang ada saat ini bisa meleburkan diri di dalamnya. Khilafah juga bukan negara mazhab, sehingga seluruh mazhab yang dianut kaum Muslim dan bisa diterima oleh Islam, bisa dipersatukan di bawah naungan Khilafah. Khilafah juga bukan negara federasi, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, atau Persemakmuran Inggeris, tetapi Khilafah adalah negara kesatuan, dengan satu kepala negara, yang dibantu oleh para wali (gubenur) di masing-masing wilayahnya, dengan satu pasukan, dan satu kesatuan ekonomi. Maka, tidak dapat disangkal, bahwa Khilafah adalah satu-satunya negara adidaya potensial yang benar-benar akan menjadi ancaman bagi negara imperialis, seperti Amerika dan Uni Eropa. Sebab, jelas sekali daerah koloni mereka di dunia ketiga, khususnya dunia Islam akan hilang dari genggaman mereka. Akibatnya, politik dan ekonomi mereka akan terpuruk, dan eksistensi mereka di pentas percaturan dunia hanya tinggal sejarah. Itulah mengapa Khilafah menjadi momok yang begitu menakutkan bagi mereka?

Maka, setelah sekian lama, keinginan untuk mengembalikan Khilafah itu pun menggema di mana-mana, bukan hanya dari dunia Islam tetapi dari jantung peradaban mereka sendiri, di Inggeris, Amerika dan negara-negara Uni Eropa, kini persoalannya kembali kepada kita: memusuhi, mendukung atau bersikap wait and see. Maka, pilihan bagi para penguasa kaum Muslim yang ada di dunia Islam saat ini juga tidak lepas dari tiga pilihan di atas:

Pertama, memusuhi perjuangan penegakan syariah dan Khilafah, sebagaimana yang dilakukan oleh sejumlah rezim di dunia Islam, seperti Uzbekistan, Kyrqistan, Suriah, Jordania, Saudi dan sebagainya, yang pada akhirnya kebijakan rezim-rezim tersebut tidak bisa mengubah apa-apa, selain menambah daftar kejahatan mereka, yang kelak akan diperhitungkan ketika Khilafah telah berdiri.

Kedua, mendukung perjuangan syariah dan Khilafah, meski kebijakan seperti ini tentu akan menyulitkan posisi mereka di hadapan negara-negara imperialis, khususnya Amerika dan sekutunya. Tetapi, ke depan mereka akan menjadi bagian dari sejarah kekuasaan Khilafah yang insya Allah akan berdiri dalam waktu dekat. Bahkan, sangat mungkin mereka tetap akan menjadi penguasa di negeri-negeri mereka.

Ketiga, melihat dan menunggu; tidak mendukung dan menolak. Barangkali sikap inilah yang lebih aman dalam rangka meminimalisir resiko, baik terhadap negara-negara imperialis yang masih dominan saat ini, maupun terhadap Khilafah kelak.

Bagi Indonesia, sebagai negeri Muslim dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, tentu akan semakin kokoh eksistensinya, baik secara ekonomi, politik maupun militer, jika bersatu dengan negeri kaum Muslim yang lain dalam satu wadah, yang disatukan bukan oleh kepentingan, tetapi oleh akidah dan pandangan hidup yang sama. Lebih dari itu, Indonesia benar-benar akan merdeka dari segala bentuk intervensi asing, khususnya negara-negara imperialis. Sementara kaum minoritas tetap mendapatkan hak-haknya untuk hidup aman dan tenteram, bebas menjalankan agamanya. Mungkinkah? Mengapa tidak, maka waktulah yang akan membuktikannya. Insya Allah.

Sumber : http://www.Hizbut-Tahrir.or.id

Rabu, 28 Oktober 2009

.: AMAL PEDULI UMAT :.

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu...." [Qs. al-Anfal (8):25]

Sebuah amal mulia, tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang mulia, yang dengan amal itulah Alloh memuliakan para nabi dan rasul-Nyn serta orang-orang yang mewarisi jejak langkah mereka dengan sebaik-baiknya. Siapapun yang mengerjakan amal tersebut, maka ia akan menyandang kemuliaan, sebuah kemuliaan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi seluruh alam. Akan tetapi, semulia apapun orang tersebut, apabila melalaikan amal ini, niscaya ia akan jatuh bersama orang-orang yang hina.

Amal Ma’ruf wa nahi munkar,

itulah amal mulia tersebut. Sebuah kalimat, ungkapan dan istilah yangringan di lisan, namun berat untuk diemban.

Keshalihan kadangkala akan melenakan diri seseorang, sehingga ia merasa cukup dan aman dengannya. la tidak terlalu peduli dengan kondisi umat yang ada, apalagi untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi umat.

la puas hanya dengan duduk-duduk di halaqah-halaqah pengajian di pojok masjid. Seolah-olah ia telah melakukan hal yang sangat besar, padahal manusia di sekitarnya kehausan akan kesejukan Islam dan iman, hanya saja mereka tidak menyadarinya.

Padahal keshalihan tidaklah cukup untuk merubah kondisi yang ada di sekitarnya. Namun, setelah seseorang mampu menshalihkan dirinya sendiri, maka dibutuhkan kesadaran dan kepedulian sosial yang tinggi, yang dengannya mampu menumbuhkan kepekaan
seseorang terhadap apa yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya.

Tidak sedikit pula orang yang salah sangka bahwa iatidak akan "pernah" melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, karena menganggap dirinya belum "benar-benir" shalih. Sebuah sangkaan yang dibuat-buat, dengan dalih:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri ...." [QS. al-Baqarah (2): 44]

Larangan tersebut bukan "mencegah" seseorang untuk mengajak orang lain berbuat baik, tetapi larangan bagi yang memadukan keduanya, Yaitu menyuruh kebaikan kepada orang lain namun ia sendiri tidak mengerjakannya.

Padahal ketika kita mengaku mengikuti jejak kehidupan dan akhlak Rasululloh, maka di sana akan ditemukan kesempurnaan akhlak yang melekat pada diri Rasullullah.


Bukankah Rasululloh adalah orang yang paling peduli terhadap umatnya?
Hingga ketika malaikat maut datang pun ia tetap
mengingat umatnya?


Lalu,


tidak malukah kita ?! Jika kita mengaku mengikuti beliau ,


tapi justru melalaikan amal tersebut,


yaitu amal peduli umat ?




Sumber


Edisi 12 -
Rajab 1427 H/ Agustus 2006 M

Majalah As Silmi





Artikel Terkait :

Sudahkah Kita mencintai Rasullulloh ?


.: HADIST "BENCANA & MUSIBAH" :.

Sudah sekian banyak cobaan & bencana yg datang Ada baiknya kita renungkan ayat dibawah ini:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(AL-AN'AAM :44)

Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seseorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya atas perbuatan maksiatnya. maka itu adalah suatu permulaan azab yang diberikan secara berangsur-angsur. (Kemudian Rasulullah membaca ayat diatas).
(HR Ahmad Az Zuhri)
TAFSIR:AL-AN'AAM :44 ::Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(QS. 6:44)::
1.Jika harta rampasan beredar diantara orang2 besar,
2.Amanah sudah dirampas,
3.Zakat sudah diutang,
4.Mengajar sudah bukan karena Agama,
5.Suami sudah tunduk kepada istrinya,
6.Anak sudah durhaka kepada Ibunya,
7.Orang sudah melakukan kolusi,
8.Anak sudah meremehkan ayahnya,
9.Orang-orang sudah berteriak-teriak di Mesjid,
10.Orang fasik sudah dimuliakan,
11.Pemimpin sudah rendah budinya,
12.Orang menghormati karena takut kejahatannya,
13.Wanita-wanita penyanyi dg alat musiknya sudah menjadi kegemarannya,
14.Minuman keras sudah menjadi biasa,
15.Umat yg sekarang mengutuk umat sebelumnya(yg istiqamah),

Maka tunggulah kedatangan bencana berupa angin merah, gempa bumi, tanah longsor, penyakit yg bisa mengubah wajah, dan hujan batu.
(HR.Ahmad & Thabrani)

Bila Zina dan Riba telah dilakukan secara terbuka di suatu negeri, mereka telah mengarahkan AZAB ALLAH kepada diri mereka.
(HR Thabrani & Hakim)

Umatku masih dalam keadaan baik selagi perbuatan zina tidak melanda mereka. Apabila perbuatan zina sudah merajalela diantara mereka.
Allah akan menurunkan siksa-Nya kepada mereka semua (HR Ahmad)

Hancurnya bangsa-bangsa sebelum kamu disebabkan oleh tindakan mereka yang membiarkan orang-orang terhormat melakukan Pencurian(KORUPSI), sedangkan bila orang-orang lemah (rakyat kecil) yang mencuri, HUKUM potong tangan dijatuhkan kepada mereka.
Demi diriku yang berada ditangan-Nya, andaikan Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya akan kupotong tangannya
(HR Ahmad, Muslim dan an-Nasa'i)

Selengkapnya baca di buku
Renungan di Balik BENCANA & MUSIBAH
oleh: Badruzzaman Busyairi

Maka Tunggulah Kedatangan BENCANA!

.....,Maka tunggulah kedatangan bencana berupa angin merah, gempa bumi, tanah longsor, penyakit yg bisa mengubah wajah, dan hujan batu. (HR.Ahmad & Thabrani)
Bila Zina dan Riba telah dilakukan secara terbuka di suatu negeri, mereka telah mengarahkan AZAB ALLAH kepada diri mereka. (HR Thabrani & Hakim)


Detail

Minggu, 28 Juni 2009

5 - BENCANA Yg Datang!

''Katakanlah kebenaran (al-haq) itu, walaupun pahit."
Abu Dzar masih minta tambahan wasiat mengenai intisari ajaran Islam. Rasulullah terakhir menjawab, ''Akan datang dari manusia kepadamu berita yang engkau tahu tentang kesalahan dirimu sendiri dan engkau tidak merasa marah pada mereka tentang apa yang diceritakannya itu. Adalah suatu aib, jika engkau baru ketahui dan sadari kesalahan yang kamu lakukan setelah hal itu jadi perbincangan orang lain.''


Mo Limo, Lima Kejahatan yang Merusak Masyarakat

Awas ! Bahaya Pornografi !!! || Awas_Jogya_korban_Dukun.doc || dibalik Gempa dan Merapi dia Yogyakarta !!! || ARTIKEL MO-LI-MO !


Istilah Mo Limo (lima kejahatan) sudah dikenal sejak lama. Lima kejahatan itu disebut Mo Limo, karena orang Jawa dulu memakai huruf Ho-no-co-ro-ko. Huruf M disebut Mo, maka singkatan M5 menjadi Mo Limo.


Lima kejahatan itu adalah (1) judi, (2) maling (mencuri), (3) madat (nyeret, minum candu). Kalau sekarang narkotik dan obat-obat adiktif yang disebut narkoba; termasuk putauw, ekstasi, shabu-shabu dsb. (4) Minum (minuman memabukkan), dan (5) madon (main perempuan: berzina, melacur).

Keadaan ini pantas dibanggakan di depan Sang Iblis yang setiap saat menyeleksi syetan-syetan yang melapor padanya atas dahsyatnya tipu daya yang dilakukan syetan terhadap manusia.

Itulah wajah kampung halamanku dan halamanmu, saudara-saudaraku. Telah menjadi kebanggaan syetan-syetan di depan Iblis. Sadarilah! Syetan dan Iblis itu adalah musuh bebuyutanmu, kenapa malah kamu sembah-sembah dengan aneka cara dan dengan mengikuti petunjuknya yang menuju ke neraka.

Kenapa syetan-syetan yang sebenarnya adalah musuhmu itu malah kamu mintai tolong untuk menyantet, untuk menghidup suburkan kemaksiatan, untuk menegakkan hukum thoghut, dan untuk membantu dalam menolak ditegakkannya syari'at Islam? Bukankah kamu masih mengaku sebagai Muslim? Sadarlah! Selama ini mungkin mulutmu sering jadi corong syetan.

Tanganmu sering jadi senjata syetan dalam menggencet muslimin. Otakmu sering jadi penebar ideologi syetan dalam menghalangi syari'at Islam.

Sedang darah dan dagingmu mungkin memang dijadikan dari makanan yang dihasilkan bersama-sama syetan atau dengan cara yang dicanangkan syetan. Ini bukan tuduhan, tetapi sekadar mengingatkan, kepada diri saya sendiri dan kepada jama'ah sekalian. Kita ini perlu muhasabah, mengoreksi diri. Kenapa kita sudah terlalu jauh rusaknya seperti ini.

Lima Kejahatan di balas Lima Bencana...!!!


Setelah kita tahu bobroknya kondisi moral manusia di negeri ini, mari kita renungkan Hadits Nabi SAW tentang lima kejahatan dibalas dengan lima adzab bencana berikut ini:

"Khomsun bi khomsin: Maa naqodho qaumul 'ahda illaa sullitho 'alaihim 'aduwwuhum, wamaa hakamuu bighoiri maa anzalalloohu illaa fasyaa fiihimul faqru, walaa dhoharot fiihimul faakhisyatu illaa fasyaa fiihimul mautu, walaa thoffaful mikyaala illaa muni'un nabaata wa ukhidzuu bissiniina, walaa mana'uz zakaata illaa hubisa 'anhumul qothro."

"Lima (kejahatan dibalas) dengan lima (bencana).

  1. Tidaklah suatu kaum yang merusak perjanjian kecuali Allah akan menimpakan atas mereka musuh yang menguasai mereka.

  2. Dan tidaklah orang-orang yang menghukumi dengan selain hukum yang diturunkan Allah kecuali akan tersebar luas kefakiran di kalangan mereka.

  3. Dan tidaklah adanya perzinaan yang nampak pada mereka kecuali akan (mengakibatkan) tersebar luas bahaya kematian.

  4. Dan tidaklah ada orang-orang yang mencurangi takaran kecuali mereka akan dicegah (adanya kesuburan) tumbuh-tumbuhan.

  5. Dan tidaklah orang-orang yang menahan/tidak bayar zakat kecuali mereka akan diadzab dengan ditahannya hujan dari mereka (kemarau panjang)."

(HR At-Thabrani dalam Al-Kabier dari Ibnu Abbas, shahih).

Lima kejahatan itu

pertama merusak perjanjian, baik kepada Allah maupun kepada pihak lain. Balasan dari perusakan janji itu adalah berkuasanya musuh atas mereka.
Kedua, menghukumi dengan selain hukum yang diturunkan Allah, artinya menghukumi dengan selain hukum yang ada di dalam Al-Qur'an (plus hadits Nabi saw) dengan sengaja ataupun karena kebodohannya. Balasannya adalah kefakiran tersebar luas, merajalela menimpa mereka.
Ketiga, kekejian yang nampak pada mereka, artinya zina, dan mereka tidak mengingkari pelakunya. (Para hakim dan juga anggota dewan perwakilan rakyat plus MPR bungkam seribu bahasa ketika ada pengakuan selingkuh/ zina dari Ariyanti (38 tahun) dengan Presiden Gus Dur/ Abdurrahman Wahid selama 2 tahun, 1995-1997, sebelum Gus Dur jadi presiden, masih jadi ketua NU/ Nahdlatul Ulama.
Padahal Aryanti saat itu berstatus punya suami, dan ia mengemukakan pengakuannya itu dengan bukti-bukti yang bisa dilacak otentisitasnya. Diamnya para hakim beserta perangkatnya dan anggota DPR/ MPR serta para ulama itu tergolong tidak mengingkari adanya tingkah zina. Lebih gawat lagi, justru ulama NU ada yang gila-gilaan dalam membelanya). Balasan dari itu adalah kematian merajalela di kalangan mereka, menurut hadits ini. (Kalau toh belum mati badannya, kemungkinan telah mati ghirah Islamiyahnya).
Keempat, mencurangi takaran ataupun timbangan. (Bukan hanya mencurangi takaran dan timbangan, namun dana-dana atau hak-hak orang pun disunat). Balasannya adalah dicegah (adanya kesuburan) tumbuh-tumbuhan. Artinya keberkahan tanam-tanaman itu dicabut, tidak berkah lagi.
Kelima, mencegah zakat, artinya tidak diberikan kepada mustahiq (yang berhak menerima, yakni fakir miskin dsb. Orang-orang kaya ataupun yang berkewajiban zakat tidak mau mengeluarkan zakat). Balasannya adalah tidak diturunkan hujan atas mereka. (Lihat Muhammad Abdur Rauf Al-Manawi, Faidhul Qadir, Darul Fikr, cet 1, 1996/ 1416H, juz 3, hal 554 ).

Satu bencana (kefakiran) saja sudah membuat bangsa ini terpuruk dengan aneka krisis. Bagaimana kalau lima-limanya? Na'udzublillaahi min dzaalik.

Untuk lebih tandasnya tentang betapa dahsyat bahaya Mo Limo, mari kita simak uraian singkat seorang dokter psikiater Prof Dr dr H Dadang Hawari sebagai berikut.

Mo Limo menurut Prof Dr dr H Dadang Hawari

Di dalam konteks sosial-budaya masyarakat dan bangsa Indonesia telah dikenal 5 macam penyakit masyarakat yang disebut dengan Mo Limo atau 5-M, yaitu singkatan dari Madat (Narkotika), Minum (Minuman Keras/ Alkohol), Main (Judi), Maling (Korupsi), dan Madon (Pelacuran).

Mo Limo ini adalah penyakit masyarakat yang merupakan masalah krusial mendesak, baik secara mikro maupun makro. Dan apabila tidak dilakukan tindakan segera (dimana supremasi hukum lemah) dikhawatirkan masyarakat akan mengambil tindakan sendiri. Oleh karena itu diperlukan "political will" dan "polical action" segera, agar tindakan anarkisme ini dapat dicegah dan tidak semakin meluas, baik lokal maupun nasional.

Adapun data-data mengenai Mo Limo yang dapat merusak tatanan sosial budaya dan merupakan ancaman nasional adalah sebagai berikut:

Madat (Narkotik)

Termasuk di dalam pengertian madat ini adalah ganja, heroin ("putauw"), kokain, ekstasi/ shabu-shabu dan sejenisnya. Diperkirakan jumlah penyalahguna madat ini mencapai 2 juta orang, dengan omzet peredaran antara Rp2 miliar perhari. Mereka yang meninggal karena over dosis mencapai 17,16%, menderita kelainan paru 53,57%, kelainan fungsi liver 55,10%, hepatitis C 56,63%, dan HIV/ AIDS 33,33%.

Solusi:
Supremasi hukum, pendidikan/penyuluhan, therapi dan rehabilitasi yang rasional (integrasi medis, psikiatris dan agama).

Minum

Termasuk di dalam pengertian minum ini adalah semua jenis minuman keras tanpa memandang berapa kadar alkohol di dalamnya. 58% tindak kekerasan, perkosaan, dan pembunuhan di bawah pengaruh miras (Adler 1991). Setiap tahunnya di Amerika Serikat paling sedikit 60.000 orang mati karena minuman keras (kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, dan penyakit hati). Kerusuhan massal atau tawuran yang terjadi di Indonesia dipicu oleh minuman keras dan narkotika. Konsumsi minuman keras di Indonesia mencapai 1 juta 54 ribu liter pertahun atau sama dengan US $ 530,848,400 (kurang lebih Rp4 triliyun; WHO/ SEARO, 1998). Data penyakit dan kematian akibat miras di Indonesia belum diperoleh, namun diasumsikan cukup besar.

Sebagai contoh misalnya di Thailand:

Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah akibat kecelakaan lalu lintas di bawah pengaruh minuman keras mencapai US$ 4 Billiun pertahun, yang merupakan 16% dari APBN atau 2,8 kali dari dana departemen kesehatan masyarakat.
Antara tahun 1989 dan 1994 kematian akibat lalu lintas di bawah pengaruh miras meningkat sampai 170% ; 30% tempat tidur di rumah sakit dihuni oleh pasien akibat kecelakaan lalu lintas tersebut. Jumlah pasien yang menderita penyakit liver akibat konsumsi miras mengalami kenaikan; pada tahun 1983 terdapat 5.483 pasien, menjadi 20.472 pasien pada tahun 1988. Dalam kurun waktu yang sama terdapat kenaikan kematian 586 menjadi 2050.

Solusi:

RUU Anti Alkohol yang pada tahun 1985 pernah diusulkan, agar segera diselesaikan. Perhatikan aspirasi ummat Islam sebagaimana disampaikan oleh MUI yang pada intinya pelarangan miras dengan kekecualian. Tidak diperkenankan pemasangan iklan baik di media cetak maupun elektronik (termasuk billboard, pamflet, poster dan sejenisnya).

Catatan: Saham pemda DKI di pabrik miras sebesar 30% . Perlu juga upaya pendidikan, penyuluhan, terapi, dan rehabilitasi yang rasional. Perlu ditanamkan pada masyarakat bahwa miras hukumnya haram sebagaimana halnya dengan madat (narkotika).

Main

Termasuk di dalam pengertian main adalah perjudian dengan segala macam bentuknya. Perjudian massal semacam SDSB ternyata merupakan proses pemiskinan massal masyarakat kelas bawah. Di Jakarta model perjudian (alat kasino) dilaporkan ada 21 tempat perjudian kelas atas. Satu tempat judi omzetnya antara Rp2 miliar sampai Rp3 miliar sehari. Pengunjung pada setiap tempat perjudian antara 300 sampai 500 orang seharinya. Omzet perjudian mencapai Rp50 miliar sehari untuk kota Jakarta saja.

Solusi:

Supremasi hukum, cegah kolusi dengan aparat atau pejabat yang menjadi "backing" ("internal affair").

Maling

Pengertian Maling di sini dalam arti makro yaitu korupsi. Para koruptor di Indonesia tidak lagi tergolong kelas teri, kelas kakap melainkan kelas ikan paus. Mega korupsi di Indonesia menjadikan Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

Bank Dunia (1998) menyatakan bahwa satu negara dikatagorikan miskin apabila pendapatan perkapita penduduk pertahun adalah US$ 650, sementara kondisi Indonesia (1998) pendapatan perkapita penduduk pertahun sama dengan US$. 350, artinya Indonesia masuk dalam kategori negara di bawah garis kemiskinan setara dengan negara-negara di Afrika.

Hutang Indonesia akibat Mega korupsi ini mencapai US$ 140 miliar yang baru dapat dilunasi dalam jangka waktu 25 tahun. Setiap bayi yang lahir sudah terbebani hutang sebesar US$ 1,000 (Woodhouse 1999).

Solusi:
Bila supremasi hukum tidak segera ditegakkan dikhawatirkan akan terjadi pengadilan rakyat (revolusi sosial) atau tindakan anarkisme lainnya.

Madon

Termasuk di dalam pengertian madon adalah main perempuan yaitu perzinaan terutama pelacuran. Omzet bisnis pelacuran di Indonesia mencapai Rp11 triliun (Khofifah, 1999). Pelacuran merupakan penularan penyebaran AIDS (95,7%). Setiap 1 menit 5 orang tertular HIV/ AIDS.

Penyakit HIV/ AIDS adalah penyakit kelamin yang mematikan. Diperkirakan pada tahun 2000 ini jumlah penderita mencapai 2,5 juta orang yang akan menghabiskan 1/3 dana APBN yang pada akhirnya para penderita mati sia-sia. Penelitian membuktikan bahwa penggunaan kondom tidak menjamin tidak ketularan. Di Amerika Serikat 30% kondom yang beredar bocor, kondom ternyata berpori (1/60 mikron) sementara virus 1/250 mikron.

Kondom juga ber "pinholes" karena proses pembuatan pabrik. Pada setiap kondom terdapat 32.000 "pinholes" dengan ukuran 1/100 mikron per "pinholes". Semboyan di AS dewasa ini yang semula safe sex use condom (seks yang aman pakailah kondom) berubah menjadi safe sex in no sex (seks yang aman tidak berzina/ melacur). Di AS telah diberlakukan Undang Undang Anti Pelacuran dan Undang Undang AIDS.

Solusi:

RUU Anti Pelacuran yang pernah diusulkan pada tahun 1977 agar segera direalisasikan. Dilakukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat bahwa HIV/ AIDS adalah penyakit kelamin yang mematikan, sementara penggunaan kondom tidak menjamin ketularan; meskipun memakai kondom, perzinaan (pelacuran) tetap haram hukumnya. Juga diperlukan media watch untuk mengontrol penerbit pornografi, baik di media cetak maupun elektronik. (Demikian isi khutbah Prof Dr dr Dadang Hawari di Masjid Deplu Pusat, Jakarta, September 2000).

Pelarangan nonton televisi

Dalam hal pengontrolan terhadap penerbitan pornografi, baik di media cetak maupun elektronik, kita perlu mengambil pelajaran dari upaya para ulama di India, yakni pelarangan menonton televisi. Berikut ini beritanya:

"Sekitar 400 keluarga Muslim di Desa Tajola, dekat Bombay, India, telah berhenti menonton televisi. Itu terjadi menyusul fatwa yang dikeluarkan ulama setempat, yang melarang mereka menonton tayangan televisi, yang disebut sebagai media 'kotor' tersebut.

Larangan itu dikeluarkan karena makin sedikit saja orang yang mau ke masjid untuk shalat berjama'ah. Sebuah laporan menyebutkan, masyarakat setempat memang lebih senang duduk-duduk di rumah dan nonton televisi ketimbang datang ke masjid untuk shalat jama'ah. Laporan itu juga menyebutkan, anak-anak lelaki mulai senang menonton film-film seronok produksi Bombay.

Para keluarga tadi diberi pilihan untuk menjual, menghancurkan, atau mencabuti kabel pesawat televisinya." (afp/ fra/ Republika, Rabu 4 Oktober 2000, hal 19).

Selayaknya para ulama memfatwakan seperti itu. Apalagi di Indonesia ini tayangan-tayangan televisi sudah gila-gilaan, para penyelenggara siaran televisi tampaknya sudah kemasukan syetan wadyabala iblis. Hingga kuping dan hati mereka telah pekak, tuli dan tidak tertembus cahaya agama. Mereka tidak menggubris aneka keluhan tentang rusaknya moral akibat nafsu rendah mereka, sebagaimana makin beraninya para perancang iklan dan perempuan-perempuan bermoral rendah yang tidak punya malu lagi untuk memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya, sebagai tabungan amal buruk untuk mereka nikmati siksanya nanti setelah nyawa mereka melesat.

Apabila para ulama membiarkan gawatnya perusakan moral ini, sedang pemerintahan pun keadaannya semakin kacau-balau tak keruan arah juntrungannya seperti ini, maka yang terkena adzab bukan hanya tukang-tukang zina dan penggesa perbuatan zina serta para pejabat yang rela terhadap terselenggaranya zina, namun akan mengenai ulamanya pula, bahkan masyarakat yang baik-baik pun bisa terkena adzab. Maka kalau tak mampu melarang tayangan-tayangan televisi yang tak sesuai aturan agama, dan peredaran VCD-VCD yang merusak moral; sebaiknya para ulama melarang ummat Islam menonton televisi dan menonton VCD yang tak Islami. Dari ulama tingkat pusat sampai daerah apabila kompak melarang jama'ahnya, maka insya Allah kemerosotan moral bisa dikendalikan. Masyarakat ini tidak akan rusak total seperti gejala sekarang ini.

Sadarlah bahwa kita ini telah memberhalakan televisi, VCD dan tayangan-tayangan yang jauh dari akhlaq Islam. Tingkatnya sudah mirip kaum jahiliyah yang memberhalakan patung-patung seperti dalam uraian di atas. Kini sudah saatnya diadakan revolusi pemberantasan berhala baru itu, dari tingkat pusat sampai ke pelosok-pelosok. Tampaknya hal ini tidak mudah, namun justru faktor tidak mudah inilah yang harus disadari bahwa itu sangat memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dari para ulama dan tokoh Islam serta da'i dan pengamal Islam yang istiqomah dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh maka kehancuran akan semakin nyata, dan akan menjadi batu sandungan yang menghambat mulusnya jawaban ketika dihisab di hari qiyamat. Karena masih ada satu pertanyaan: Kenapa kamu biarkan kaluargamu dan orang-orang yang menjadi tanggunganmu rusak akhlaq bahkan aqidahnya gara-gara tayangan-tayangan yang merusak akhlaq dan iman itu.

Sebelum pertanyaan di hari qiyamat itu diajukan kepada kita semua, mari kita lakukan pemberantasan biang kemaksiatan itu secara bersama-sama, sungguh-sungguh, dan terus menerus. Demikian pula kejahatan Mo Limo yang jelas-jelas merusak masyarakat itu wajib kita berantas. Lebih harus diberantas lagi, karena negeri yang kondisinya amburadul ini tampaknya justru sering mendukung aneka kemaksiatan dengan mengandalkan surat izin yang mereka keluarkan. Padahal negeri ini berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan Ke-syetan-an yang maha terkutuk. Namun pihak penguasa negeri ini berani mengeluarkan izin-izin penyelenggaraan tempat-tempat maksiat, pembukaan pabrik minuman keras, bahkan Pemda DKI Jakarta menanam saham di pabrik minuman keras itu 30%; itu berarti menentang Tuhan secara formal, dan mengikuti syetan secara legal. Pemerintahan yang seperti ini, ketika mengeluarkan izin kemaksiatan dengan aneka jenisnya itu, bahkan menanam saham padanya, pada dasarnya adalah syetan berbaju pemerintah, hingga kekuatannya bagai dajjal, dan itulah musuh manusia dan musuh Allah SWT.

Maka mari kita perangi bersama-sama dalam rangka menegakkan hukum Allah. Mari! Kita perangi karya syetan-syetan itu, biar negeri ini bersih dari kemaksiatan yang selama ini ditegakkan oleh syetan formal dan syetan non formal beserta wadyabalanya. Jangan biarkan mereka lebih merusak lagi di masa-masa mendatang, hingga negeri ini tenggelam dalam kemaksiatan dan kejahatan yang lebih dahsyat lagi.

Relakah kita membiarkan anak cucu kita menjadi mangsa syetan iblis berkekuatan dajjal itu?

SADARKAH KITA BAHWA BENCANA SELAMA INI ADALAH ULAH KITA SENDIRI ?

Rabu, 10 Juni 2009

Kewajiban Sholat Berjama'ah

Shalat Berjama'ah
a. Hukum Shalat Berjama'ah

Shalat berjama'ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, diantaranya: Diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW nersabda: "Barangsiapa yang ingin bergembira bertemu dengan Allah besok dalam keadaan muslim, hendaklah ia memelihara sholat-sholatnya, dimana pun ia dipanggil untuk itu, Sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk Nabimu jalan-jalan petunjuk. Dan sholat adalah bagian dari jalan-jalan petunjuk itu. Jika kalian di rumah-rumah kalian seperti sholat orang yang lalai ini, sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan apabila kalian telah meninggalkan sunnah, sungguh kalian telah sesat. Tak seorang pun yang bersuci, lalu menyempurnakan bersucinya, kemudian menyengaja mendatangi salah satu masjid, niscaya Allah akan menulis buatnya kebaikan dalam dalam setiap langkah yang diayunkannya. Dan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya , dan menghapuskan kejelekannya. Dan aku telah melihat orang-orang (sahabat-sahabat) kami, tidak ada yang ketinggalan dari sholat berjamaah kecuali orang-orang yang munafik yang telah jelas kemunafikannya. Dan sungguh telah dibawa (ke masjid) seseorang (sahabat) sambil digotong diantara dua orang (karena lemahnya) sehingga dia didirikan di dalam suatu shaf." (H.R. Muslim)
"Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, "Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, "Ya.' Beliau bersabda, "Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'." (HR. Muslim) "Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Shubuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu'." (Muttafaq "alaih) "Dari Abu Darda' Radhiallaahu anhu, ia berkata,"Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama'ah, terkecuali setan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jama'ah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)'." (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan) "Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu , bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih) "Dari Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di dalamnya." (HR. Muslim) b. Keutamaan Shalat Berjama'ah Shalat berjama'ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah: "Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Shalat berjama'ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian." (Muttafaq "alaih) "Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata,"Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , "Shalat seseorang dengan berjama'ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengucapkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, "Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.' Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci'." (Muttafaq "alaih) c. Berjama'ah dapat dilaksanakan sekalipun dengan seorang makmum dan seorang imam Shalat berjama'ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama'ah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . "Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ), kemudian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya'." (Muttafaq "alaih) "Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, kedua-nya berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Barangsiapa bangun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama'ah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah'." (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih) "Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiallaahu anhu, "Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, "Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.' Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya'." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih) "Dari Ubay bin Ka'ab Radhiallaahu anhu , ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jama'ah) semakin disukai oleh Allah Ta'ala'." (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)
Tentang urutan orang yang paling berhak menjadi Imam, terdapat dalam hadits Abu Mas'ud Al Anshori, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: {i]Hendaklah yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling pandai membaca Kitabullah. Apabila bacaan mereka sama. (pilihlah) orang yang paling tahu tentang sunnah. Apabila pengetahuan mereka tentang sunnah juga sama, (pilihlah) orang yang lebih dahulu hijrah. Apabila mereka juga bersamaan dalam hijrah, (pilihlah) orang yang lebih dahulu masuk Islam. Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di luar wilayahnya, dan janganlah duduk di tempat yang khusus untuk tuan rumah kecuali dengan izinnya."[/i] (H.R. Muslim) Bagi imam disunnahkan untuk meringankan sholatnya. Ini terdapat dalam sabda Rasulullah SAW: "Apabila salah seorang diantara kaian berdiri(mengimami) orang lain, hendaklah ia meringankan sholatnya (memendekkan bacaannya), karena diantara makmum ada orang tua dan orang yang lemah. Apabila ia sholat sendirian, perpanjanglah sholat sesuai dengan keinginannya." (Muttafaq alaih)
Wajibnya Shalat Berjama'ah
Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka coba membunuh ular itu. Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, ;Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat. Lalu para sahabat bertanya,; Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini? Berkata ular,
Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya : 1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mau datang untuk sembahyang berjamaah. 2. Dia tidak mau kel uarkan zakat hartanya. 3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.
Telah sampai berita kepadaku bahwasanya banyak kaum muslimin yang mengabaikan shalat wajib secara berjama"ah, mereka berdalih dengan pendapat sebagian ulama yang menggampangkan hal ini. Maka saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan betapa besarnya permasalahan ini dan betapa pentingnya serta tidak diragukan lagi bahwa mengabaikan shalat berjamaah adalah suatu kemungkaran yang sangat besar dan bahayanya pun fatal. Tugas dan kewajiban para ulama adalah memberikan penjelasan dan peringatan, terhadap pengabaian tersebut yang merupakan kemungkaran nyata, yang tidak boleh didiamkan.
Dan sudah dimaklumi bersama, bahwasanya tidaklah layak bagi seorang muslim menganggap remeh suatu perkara yang dimuliakan oleh Allah di dalam Kitab Sucinya, dan diagungkan oleh RasulNya yang mulia r.
Berulang kali Allah Ta'ala menyebutkan shalat di dalam Kitab Sucinya, Dia tinggikan kedudukannya, Dia perintahkan agar memelihara dan melaksanakan-nya dengan berjama"ah. Dan Dia memperingatkan bahwa meremehkan dan bermalas-malasan dalam melakukannya merupakan sifat orang-orang munafiq, sebagaimana firmanNya:
Peliharalah semua shalatmu dan peliharalah shalat wustha (shalat asar). Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu". (Al-Baqarah; 238).
Bagaimana manusia akan mengetahui bahwa seorang hamba memelihara shalat dan mengagungkannya, padahal ia telah meninggalkan shalat berjama"ah bersama-sama suadara-saudaranya (kaum muslimin) dan menganggap remeh kedudukannya. Padahal Allah telah berfirman:
" Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku"lah beserta orang-orang yang ruku". (Al-Baqarah:43)
Ayat di atas secara tegas menjelaskan wajibannya melakukan shalat wajib dengan berjama"ah dan sekiranya yang dimaksud oleh ayat tersebut hanya menegakkannya saja, maka tidak jelaslah hubungan gamblang pada ujung ayat (dan ruku"lah kalian bersama-sama orang-orang yang ruku"), karena Allah telah memerintahkan agar menegakkannya pada awal ayat.
Dia juga berfirman:
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apa bila mereka(yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. (An-Nisa': 102).
Pada ayat di atas Allah mewajibkan shalat berjama"ah dalam kondisi perang dan penuh ketakutan, maka bagaimana dalam kondisi damai? Kalau sekiranya seseorang diperbolehkan meninggalkan shalat berjama"ah, niscaya para tentara yang berbaris menghadang musuh dan orang-orang yang terancam serangan musuh itu lebih berhak untuk diperbolehkan meninggalkan shalat berjama"ah. Oleh karena itu tidak diperbolehkan mening-galkan shalat berjama"ah, dan dapat kita ketahui bahwa shalat berjama"ah itu termasuk kewajiban yang sangat penting, serta tidak diperbolehkan bagi seorang pun meninggalkannya.
Rasulullah r bersabda: "Sungguh, aku telah bertekad untuk menyuruh (para shahabat) melakukan shalat, dan aku suruh seseorang untuk mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut shalat berjama`ah, untuk membakar rumah mereka dengan api. (HR Bukhari Muslim).
Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan bahwasanya Rasulullah r bersabda: "Kalau sekiranya tidak karena istri-istri dan anak-anak berada di dalam rumah mereka, niscaya aku bakar rumah mereka."
Abdullah bin Mas"ud mengatakan: "Sesungguhnya kami telah menyaksikan, bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjama"ah (di masa kami) kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya, atau orang sakit. Padahal ada di antara yang sakit berjalan dengan diapit oleh dua orang untuk mendatangi shalat berjama"ah". (HR Muslim)
Beliau juga berkata: "Sesungguhnya Rasulullah r telah mengajari kami sunnah-sunnah agama, dan di antaranya adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di dalamnya".
Dalam Shahih Muslim belaiu juga berkata: "Barangsiapa yang ingin berjumpa Allah di kemudian hari dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat lima waktu ini dengan melakukannya dimana saja ada seruan adzan, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan (mensyari'atkan) jalan-jalan menuju hidayah (petunjuk-petunjuk agama), dan sesungguhnya melakukan shalat lima waktu dengan berjama'ah adalah termasuk jalan-jalan menuju hidayah. Maka sekiranya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang lalai melakukannya di rumah, maka berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) nabi kalian, dan jika kalian meninggalkan sunnah nabi kalian, niscaya kalian sesat. Dan tiada seseorang bersuci (berwudhu), lalu melakukannya dengan baik (sempurna), kemudian ia datang ke salah satu masjid dari masjid-masjid yang ada ini, melainkan Allah mencatat baginya satu kebajikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan, dan Dia mengangkatnya satu derajat karena langkah itu, serta Dia hapuskan dari padanya satu dosa. Sesungguhnya, kami telah menyaksikan, bahwa tiada seorang pun yang meninggalkan shalat berjama`ah (di masa kami), kecuali orang munafiq yang sudah jelas kemunafikannya. Dan sesungguhnya ada orang yang diapit oleh dua orang menuju masjid hingga didirikan di shaf."
Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya ada seorang yang buta berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada orang yang menuntunku ke masjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku? Maka Rasulullah r menjawab: Apakah kamu mendengar seruan adzan? Orang itu menjawab: Ya. Maka Nabi bersabda: Kalau begitu penuhi seruan itu." (HR Muslim)
Dan juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah r telah bersabda: "Barangsiapa yang mendengar seruan adzan, lalu ia tidak datang (memenuhi seruan shalat berjama`ah itu), maka tidak sah shalatnya, kecuali karena ada udzur".
` Suatu ketika Ibnu Abbas ditanya: Apa udzur itu? Ia menjawab: Takut (serangan musuh) atau sakit.
Hadits-hadits yang menunjukkan tentang kewajiban shalat berjama"ah dan kewajiban melakukannya di masjid-masjid yang diizinkan Allah untuk ditinggikan dan disebutkan namaNya, sangat banyak sekali. Maka kewajiban setiap muslim adalah memperhatikan masalah ini dan segera melakukannya serta menganjurkan dan menasihati anak-anak, keluarga dan para tetangga serta saudara-saudaranya yang seiman untuk melakukan perkara ini, sebagai ketaatan kepada perintah Allah dan RasulNya, supaya terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan jauh dari sifat-sifat orang-orang munafiq yang dinyatakan oleh Allah dengan sifat-sifat yang tercela, di antaranya adalah mereka lalai dalam melakukan shalat. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir) tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa': 142-143)
Sungguh meninggalkan shalat berjama"ah merupakan penyebab utama pengabaian pelaksanaan shalat secara keseluruhan.
Ayat-ayat Al-Qur"an dan hadits-hadits Nabi r yang menjelaskan tentang kedudukan shalat, kewajiban memeliharanya dan mendirikannya sebagaimana yang disyari"atkan Allah serta peringatan keras terhadap pengabaiannya sangat banyak. Maka wajib bagi setiap muslim memelihara (pelaksanaan)nya tepat pada waktunya dan mendirikannya sebagaimana yang disyari"atkan Allah bersama saudara-saudaranya di masjid-masjid, sebagai tanda kepatuhan kepada Allah Ta'ala dan rasulNya, serta agar terhindar dari murka Allah Ta'ala dan kepedihan adzabNya.
Apabila kebenaran dan dalil-dalinya telah jelas, maka tidak boleh bagi seorang pun menyimpang darinya karena pendapat si Fulan atau si Fulan. Sebab Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa': 59)
Dan firmanNya:
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur: 63).
Sudah tidak diragukan lagi bahwa shalat berjama"ah itu mengandung faidah yang sangat banyak dan maslahat yang sangat jelas di antaranya adalah saling mengenal (ta"aruf ), saling menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, memberi dorongan kepada orang yang lalai, mengajar orang yang bodoh, membongkar kemarahan orang-orang munafiq dan menjauhi jalan mereka, menampakkan syi"ar-sy"iar agama kepada segenap hamba-hambaNya, berdakwah di jalan Allah dengan lisan, dan amal serta faidah lain yang masih banyak.
Sebagian orang ada yang bergadang di malam hari sehingga terlambat melakukan shalat Subuh, dan sebagian lagi ada yang meninggalkan shalat Isya". Tentu, hal seperti itu merupakan kemungkaran besar dan tasyabbuh (meniru perbuatan) orang-orang munafiq, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditem-patkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan men-dapat seorang penolong pun bagi mereka. (An-Nisa: 145).
Dan juga firmanNya:
"Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya, mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasiq. Allah mengancam orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah Neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka adzab yang kekal. (At-Taubah 67-68).
Dan Allah berfirman tentang mereka:
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak pula menafkahkan harta mereka, melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan memberi harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah-54-55).
Maka wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan waspada dari menyerupai (meniru-niru) orang-orang munafiq baik perbuatan, perkataan dan kemalasan mereka dalam menunaikan shalat dan pengabaian mereka dalam melakukan shalat Isya" dan Subuh dengan berjama"ah, agar tidak dihimpun bersama mereka. Rasulullah r bersabda: "Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat Isya' dan shalat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang terkandung pada keduanya, niscaya mereka akan datang untuk melakukannya (secara berjama'ah) sekalipun dengan merangkak". (Muttafaq alaih).
Dan sabdanya: "Barangsiapa meniru-niru (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". (HR. Imam Ahmad, dengan sanad hasan).
Semoga Allah memberi taufiq kepadaku dan kepada pembaca menuju keridhaanNya dan kebaikan di dunia dan akhirat, dan semoga Dia melindungi kita dari kejahatan nafsu, amal-amal buruk kita dan dari perbuatan yang menyerupai orang-orang kafir dan munafiq. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Dikutip dari kitab Tiga Masalah Penting Tenatng Sholat dengan sedikit perubahan

Download Kebangkitan Ummat (Audio/wav 920 Kbyte) Rahasia Sholat Shubuh & Shalat dan Otak Manusia
KLASIFIKASI ORANG DI DALAM MELAKSANAKAN SHALAT
Orang yang selalu Menjaga Shalat-nya.Yaitu dengan menunaikannya secara baik dan benar serta berjama’ah di masjid. Ia segera memenuhi panggilan shalat ketika mendengar adzan, selalu berusaha berada di shaf terdepan di belakang imam. Di sela-sela menunggu imam, ia gunakan waktu untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an hingga didirikan shalat. Orang yang melakukan ini akan mendapatkan pahala yang besar dan terbebas dari dua hal, yaitu dari api neraka dan dari nifaq, sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi dari Anasz.
Orang yang Melakukan Shalat dengan Berjama’ah namun Sering atau selalu Terlambat.Ia selalu ketinggalan takbiratul ihram, satu atau dua raka’at dan bahkan sering datang pada waktu tahiyat akhir. Bagi para salaf ketinggalan takbiratul ihram bukanlah masalah kecil, sehingga mereka sangat perhatian agar tidak ketinggalan di dalamnya.
Orang Melakukan Shalat Secara Berjama’ah karena Takut Orang Tua.Mereka melakukan shalat dengan berjama’ah karena mencari ridha orang tuanya, sehingga tatkala orang tuanya tidak ada di rumah atau sedang bepergian, maka ia tidak lagi mau berjama’ah, lebih-lebih dalam shalat Shubuh.
Orang yang Tidak Pernah Shalat Berjama’ah di Masjid.Ia mendatangi masjid hanya sekali dua kali saja atau ketika Hari Jum’at saja, mereka berdalil dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan, bahwa shalat berjama’ah itu bukan sesuatu yang wajib. Padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam tidak memberikan rukhshah kepada seorang yang buta untuk shalat di rumah, maka selayaknya seorang muslim mendahulukan ucapan Nabinya.
Orang Melakukan Shalat Secara Asal-asalan.Yaitu tidak menyempurnakan rukuk, sujud serta rukun-rukun dan kewajiban yang lain. Dalam shalatnya ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali, bahkan mungkin hanya sekedar ikut-ikutan shalat dan gerak saja.
Orang yang Melakukan Shalat sesuai Syarat dan Rukunnya, namun Ia Tidak Menghayati dan Mengerti.Ia melakukan shalat dengan raga-nya secara baik, akan tetapi pikirannya mengembara dalam urusan dunia, hatinya pun tidak tertuju pada apa yang sedang ia kerjakan saat itu.
Sumber, Ashnafunnas Fish Shalah, Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnid.
REFERENSI :
Buku : RAHASIA & KEUTAMAAN SHALAT SUBUH
Oleh : Adnan Tharsyah
Penerbit : Pustaka Azzam

"Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Shubuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak."

Dalam buku tersebut dijelaskan hikmah dan manfaat yang besar dari melaksanakan sholat subuh berjamaah di mesjid, baik fisik maupun psikologis, sesuai dg hadist rasullullah diatas "Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak", Ada apa dibalik itu ?
Tidak tuma’ninah dalam sholat
Tuma’ninah adalah diam beberapa saat sehingga tenang anggota badan. Para ulama memberi batasan sekedar waktu yang diperlukan untuk membaca tasbih. Misalnya dengan tidak meluruskan punggung saat ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ dan sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, apabila seseorang melakukan hal tersebut maka tidak sah sholatnya, Rasulullah r bersabda: "Tidak sah sholat seorang, sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud" (H.R. Abu Daud 1/533, lihat Shahihul Jami’ hadits no. 7224).
Rasullulah r menggabarkan diantara kejahatan pencuri yang paling besar adalah mencuri dalam sholat sebagaimana sabdanya :"Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam sholatnya" mereka (Sahabat) bertanya " bagaimana ia mencuri dari sholatnya? Beliau menjawab "tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya" (H.R. Ahmad, 5/310 dan lihat Shahihul Jami’ hadits no. 997). Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, yang pelakunya harus dinasehati dan diperingatkan akan ancaman Allah dalam melakukan hal tersebut.
Mendahului Imam secara sengaja dalam sholat.
Dalam sholat berjamaah sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mendahului imam baik dalam hal ruku’, sujud bahkan mendahului imam dalam salam, perbuatan ini dianggap remeh oleh sebagian besar umat Islam, oleh karena itu Rasulullah r mengingatkan dengan ancaman yang keras sebagaimana sabdanya: "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, akan dirubah oleh Allah kepalanya menjadi kepala keledai" (H.R. Muslim).
Para sahabat sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi r. Salah seorang sahabat bernama Al-Barra’ bin Azib berkata: "Sungguh mereka (para sahabat) sholat dibelakang Nabi r, maka jika beliau r turun sujud, saya tidak pernah melihat salah seorangpun yang membungkukkan punggungnya, sehingga Rasulullah r meletakkan keningnya diatas tanah, lalu orang yang ada dibelakangnya bersimpuh sujud (bersamaan) (H.R. Muslim), dan ketika Rasulullah r mulai uzur (lanjut usia) dan gerakannya tampak pelan, beliau r tetap mengingatkan orang-orang yang sholat dibelakangnya dengan sabdanya "Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud (H.R. Al-Baihaqi 2/93 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/290)
Rahasia Sholat Shubuh & Shalat dan Otak Manusia
.: HUKUM SHOLAT BERJAMA'AH :.
Tidak disangsikan lagi permasalahan ibadah merupakan inti ajaran Islam. Syari'at sangat memperhatikan permasalahan ini, karena merupakan perwujudan aqidah seseorang. Dan Allah menjadikannya sebagai tujuan penciptaan manusia dalam firmanNya,
Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.[QS Adz Dzariyat:56]
Diantara ibadah yang agung dan penting ialah shalat. Karena merupakan amalan terbaik seorang hamba. Rasulullah bersabda,
Istiqamahlah, dan kalian tidak akan mampu ber-istiqamah dengan sempurna. Ketahuilah, sebaik-baik amalan kalian ialah shalat. Dan tidaklah menjaga wudhu, kecuali seorang mukmin.[Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, kitab Thoharoh Wa Sunanuha, bab Al Muhafadzoh Alal Wudhu No. 253, Ahmad dalam musnadnya No. 21400 dan 21344 dan Addarimiy dalam sunannya, kitab Thaharoh, bab Ma Ja'a fith Thuhur No.653.]
Terlebih lagi, shalat telah diwajibkan Allah terhadap kaum mukminin. Sehingga sudah selayaknya kita memperhatikan masalah ini. Dengan berharap dapat menunaikannya secara sempurna.
KEDUDUKAN SHALAT DALAM ISLAM
Shalat menempati kedudukan tinggi dalam Islam. Adalah rukun kedua dan berfungsi sebagai tiang agama. Rasulullah bersabda,
Pemimpin segala perkara (agama) ialah Islam (syahadatain), dan tiangnya ialah shalat. [Diriwayatkan oleh Attirmidziy dalam sunannya, kitab Al Iman bir Rasulillah no. 3541 dan Ahmad dalam musnadnya no. 21054, Attirmidziy berkata: "Ini hadits hasan shohih".]
Seluruh syariat para rasul menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk menunaikannya, sebagaimana Allah berfirman menjelaskan do'a Nabi Ibrohim:
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak-cucuku, orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do'aku. [QS Ibrahim:40].
Dan mengisahkan Nabi Ismail:
Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. [QS Maryam :55].
Demikian juga menyampaikan berita kepada Nabi Musa:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. [QS Thaha :14].
Nabi Isa menceritakan nikmat yang diperolehnya dalam Al Qur'an:
Dan Dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. [QS Maryam :31].
Bahkan Allah mengambil perjanjian Bani Israil untuk menegakkan shalat. Allah berfirman:
"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. [QS Al Baqarah :83].
Demikian juga Allah memerintahkan hal itu kepada Nabi Muhamad dalam firmanNya:
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS Thaha:132].
Demikian tinggi kedudukan shalat dalam Islam, sampai Rasulullah menjadikannya sebagai pembeda antara mukmin dan kafir. Rasulullah bersabda,
Perjanjian antara aku dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah berbuat kekafiran.[Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Jami'nya (Sunannya), kitab Iman bir Rasulillah, Bab Ma Ja'a Fi Tarki Shalat, no. 2545 dan An Nasa'i dalam Sunannya kitab Shalat, Bab Al Hukmu Fi Tarikis Shalat, no. 459 dengan sanad yang shahih]
Memang, seseorang yang meninggalkan shalat, akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya. Kemudian terputuslah hubungannya dari Allah.
Abu Bakar Ash Shidiq menyatakan dalam surat Beliau kepada Umar,"Ketahuilah, perkara yang paling penting padaku ialah shalat. Karena seseorang yang meninggalkannya, akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya. Dan ketahuilah, Alah memiliki satu hak pada malam hari yang tidak diterimaNya pada siang hari. Dan satu hak pada siang hari yang tidak diterimaNya pada malam hari. Allah tidak menerima amalan sunnah, sampai (seseorang) menunaikan kewajiban."[Dinukil oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa, 22/40]
HUKUM SHOLAT BERJAMA'AH
Shalat jama'ah disyari'atkan dalam Islam. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Terpilah menjadi empat pendapat.
Pertama. Hukumnya fardhu kifayah.Demikian ini pendapat Imam Syafi'i, Abu Hanifah, jumhur ulama Syafi'iyah mutaqaddimin, dan banyak ulama Hanafiyah maupun Malikiyah.
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,"Dzahir nash (perkataan) Syafi'i, shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Inilah pendapat jumhur mutaqaddimin dari ulama Syafi'iyah dan banyak ulama Hanafiyah serta Malikiyah." [Fathul Bari, 2/26]
Dalil-dalilnya.
Hadits Pertama.
Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat, kecuali Syaithan akan menguasainya. Berjama'ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian.[Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab Ash Shalat, Bab At Tasydid Fi Tarkil Jama'ah, no. 460, An Nasa'i dalam Sunannya, kitab Al Imamah, Bab At Tasydid Fi Tarkil Jama'ah, no.738 dan Ahmad dalam Musnadnya, no. 26242]
As Saib berkata,"Yang dimaksud berjama'ah ialah jama'ah dalam shalat.[Lihat penukilan Abu Dawud setelah menyampaikan hadits diatas]
Hadits Kedua.
Kembalilah kepada ahli kalian, lalu tegakkanlah shalat pada mereka, serta ajari dan perintahkan mereka [untuk shalat]. Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang paling tua menjadi imam. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adzan, Bab Al Adzan Lil Musafir Idza Kanu Jama'atan wal Iqamah Kadzalik, no. 595 dan Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi' Ash Shalat, Bab Man Ahaqu bil Imamah, no. 1080]
Hadits Ketiga.
Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah bersabda,"Shalat berjama'ah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat." [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adzan, Bab Fadhlu Shalatul Jama'ah, no. 609]
Kedua. Hukumnya syarat, tidak sah shalat tanpa berjama'ah, kecuali dengan udzur.Demikian ini pendapat Dzahiriyah dan sebagian ulama hadits. Pendapat ini didukung oleh sejumlah ulama, diantaranya: Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa.
Diantara dalil-dalinya, ialah:
Hadits Pertama.
Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak datang, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, kitab Al Masajid wal Jama'ah, Bab At Taghlidz Fi At Takhalluf 'Anil Jama'ah, no. 785. Hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 631]
Hadits Kedua.
Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar. Lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat, dan aku tidak berjama'ah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama'ah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adzan, Bab Wujubu Shalatil Jama'ah, no. 608 dan Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi' Sholat, Bab Fadhlu Shalatil Jama'ah wa Bayani At Tasydid Fit Takhalluf 'Anha, no. 1041]
Hadits Ketiga.
Seorang buta mendatangi Nabi dan berkata,"Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid," lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah sehingga dibolehkan shalat di rumah. Lalu Beliau memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi, langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya,"Apakah engkau mendengar panggilan adzan shalat?" Dia menjawab,"Ya." Lalu Beliau berkata,"Penuhilah!"[Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi' Shalat, Bab Yajibu Ityanul Masjid 'Ala Man Sami'a An Nida' no. 1044]

Ketiga. Hukumnya sunnah muakkad.
Demikian ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Malikiyah. Imam Ibnu Abdil Barr menisbatkannya kepada kebanyakan ahli fiqih Iraq, Syam dan Hijaj.
Dalil-dalilnya.
Hadits Pertama.
Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah bersabda,"Shalat berjama'ah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat." [Diriwayatkan oleh Bukhoriy dalam shohihnya kitab Al Adzaan, Bab Fadhlu sholatul jama'ah no. 609]
Hadits Kedua.
Sesungguhnya, orang yang mendapat pahala paling besar dalam shalat ialah yang paling jauh jalannya, kemudian yang lebih jauh. Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam, lebih besar pahalanya dari orang yang shalat, kemudian tidur. Dalam riwayat Abu Kuraib, (disebutkan): sampai shalat bersama imam dalam jama'ah. [Diriwayatkan oleh Muslim dalam shohihnya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi' Sholat, bab Fadhlu Katsrotil Khutha Ilal Masaajid, no.1064]
Imam Asy Syaukani menyatakan setelah membantah pendapat yang mewajibkannya, "Pendapat yang tepat dan mendekati kebenaran, [bahwa] shalat jama'ah termasuk sunah-sunah yang muakkad… Adapun hukum shalat jama'ah adalah fardhu 'ain atau kifayah atau syarat sah shalat maka tidak".
Hal ini dikuatkan oleh Shidiq Hasan Khan dengan pernyataan Beliau,"Adapun hukumnya fardhu, maka dalil-dalilnya masih dipertentangkan. Akan tetapi terdapat cara ushul fiqh yang mengkompromikan dalil-dalil tersebut. Yaitu, hadits-hadits keutamaan shalat jama'ah menunjukkan keabsahan shalat secara sendirian. Hadits-hadits ini cukup banyak. Diantaranya :
Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam, lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. Hadits ini dalam kitab shahih. Juga, diantaranya hadits tentang seseorang yang shalatnya salah. Kemudian Rasulullah memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya, sendirian. Kemudian hadits (seandainya ada seorang yang bersedekah kepadanya).[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya no. 11380] Ketika melihat seseorang shalat sendirian.
Diantara hadits-hadits yang menguatkannya ialah hadits yang mengajarkan rukun Islam. Karena Rasulullah tidak memerintahkan orang yang diajarinya untuk tidak shalat, kecuali berjama'ah. Padahal Beliau mengatakan kepada orang yang menyatakan saya tidak menambah dan menguranginya: (telah beruntung jika benar) dan dalil-dalil lainnya. Semua ini dapat menjadi pemaling sabda Beliau yang ada pada hadits-hadits yang menunjukan kewajiban berjama'ah kepada peniadaan kesempurnaan, bukan keabsahannya." [Raudhatun Nadiyah Syarah Durarul Bahiyah, 1/306]Pendapat ini dirajihkan oleh Asy Syaukani dan Shidiq Hasan Khan serta Sayyid Sabiq.[Fiqih Sunnah, 1/248]

Keempat. Hukumnya wajib 'ain (fardhu 'ain) dan bukan syarat.
Demikian ini pendapat Ibnu Mas'ud, Abu Musa Al Asy'ariy, Atha' bin Abi Rabbah, Al Auza'i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, sebagian besar ulama Hanafiyah dan madzhab Hambali.
Dalilnya.
- Dalil-dalil dari firman Allah,
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan se-raka'at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. [QS An Nisa':102].
Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas mengenai kewajiban shalat berjama'ah. Yakni tidak boleh ditinggalkan, kecuali ada udzur, seperti: ketakutan atau sakit.
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. [QS Al Baqarah:43].
Ayat di atas merupakan perintah. Kata perintah menunjukkan maksud kewajiban shalat berjama'ah.
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi goncang. [QS An Nur:36-37].
Katakanlah,"Rabbku menyuruh menjalankan keadilan." Dan (katakanlah), "Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta'atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya." [QS Al A'raf:29].
Kedua ayat di atas, terdapat kata perintah yang menunjukkan kewajiban shalat berjama'ah.
Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. [QS Al Qalam:42-43].
Ibnul Qayyim berkata,"Sisi pendalilannya, adalah Allah menghukum mereka pada hari kiamat dengan memberikan penghalang antara mereka dengan sujud, ketika diperintahkan untuk sujud. Mereka diperintahkan sujud di dunia dan enggan menerimanya. Jika demikian, maka menjawab panggilan mendatangi masjid untuk menghadiri jama'ah shalat, bukan sekedar melaksanakannya di rumahnya saja."
- Dalil dari sabda Rasulullah,
Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar, lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjama'ah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama'ah). Lalu aku bakar rumah-rumah mereka. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya kitab Al Adzan, Bab Wujubu Shalatil Jama'ah, no. 608 dan Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi' Shalat, Bab Fadhlu Shalatil Jama'ah wa Bayani At Tasydid Fit Takhalluf 'Anha, no. 1041]
Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits ini menyatakan,"Adapun hadits bab (hadits di atas), maka dhahirnya menunjukkan, (bahwa) shalat berjama'ah fardhu 'ain. Karena, seandainya hanya sunah, tentu tidak mengancam yang meninggalkannya dengan (ancaman) pembakaran tersebut. Juga tidak mungkin terjadi, atas orang yang meninggalkan fardhu kifayah, seperti pensyari'atan memerangi orang-orang yang meninggalkan fardhu kifayah."[Fathul Bari, 2/125]
Demikian juga Ibnu Daqiqil 'Ied menyatakan,"Ulama yang berpendapat, bahwa shalat berjama'ah hukumnya fardhu 'ain berhujah dengan hadits ini. Karena jika dikatakan fardhu kifayah, kewajiban itu dilaksanakan oleh Rasulullah dan orang yang bersamanya dan jika dikatakan sunnah, tentu tidaklah dibunuh orang yang meninggalkan sunah. Dengan demikian jelaslah, shalat jama'ah hukumnya fardhu 'ain." [Ihkamul Ahkam, 1/124]
Seorang buta mendatangi Nabi dan berkata,"Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid," lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah sehingga dibolehkan shalat di rumah. Lalu Beliau memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi , langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya,"Apakah engkau mendengar panggilan adzan shalat?" Dia menjawab,"Ya." Lalu Beliau berkata,"Penuhilah!" [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi' Sholat, Bab Yajibu Ityanul Masjid 'Ala Man Sami'a An Nida' no. 1044]
Setelah menyampaikan hujjahnya dengan hadits ini, Ibnu Qudamah berkata,"Jika orang buta yang tidak memiliki orang untuk mengantarnya, tidak diberi keringanan, maka, (yang) selainnya lebih lagi." [Al Mughni, 3/6]
Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat, kecuali syaithan akan menguasainya. Berjama'ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian. [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab Ash Shalat, Bab At Tasydid Fi Tarkil Jama'ah, no.460, An Nasa'i dalam Sunannya, kitab Al Imamah, Bab At Tasydid Fi Tarkil Jama'ah, no.738 dan Ahmad dalam Musnadnya, no. 26242]
Nash-nash ini menunjukkan wajibnya shalat berjama'ah. Pendapat ini dirajihkan oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts wal Ifta' (Komite Tetap Untuk Riset dan Fatwa Saudi Arabia) [Fatawa Lajnah Daimah, 7/283] dan Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As Sadlan dalam kitabnya Shalat Al Jama'ah. Demikian juga sejumlah ulama lainnya. Wallahu a'lam.
Rahasia Sholat Shubuh & Shalat dan Otak Manusia

.: Bahaya Menyia-nyiakan Salat :.
"Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelak) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui sesesatan. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh." (Maryam: 59-60).Ibnu Abbas berkata, "Makna menyia-yiakan salat salat bukanlah meninggalkannya sama sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya." Imam para tabi'in, Sa'id bin Musayyib berkata, "Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan salat duhur sehingga datang waktu asar; tidak mengerjakan asar sehingga datang magrib; tidak salat magrib sampai datang isya; tidak salat isya sampai fajar menjelang; tidak salat subuh sampai matahari terbit. Barang siapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertobat, Allah menjanjikan baginya Ghayy, yaitu lembah di neraka Jahanam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya." "Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan salatnya." Al-Maa'uun: 4-5). Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan salat. Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan salatnya. Beliau menjawab, yaitu mengakhirkan waktunya." Mereka disebut orang-orang yang salat. Namun, ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan Wail, azab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka Jahanam, jika gunung-gunung yang ada dimasukkan ke sana niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan salat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali, orang-orang yang bertobat kepada Allah Taala dan menyesal atas kelalaiannya. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9). Para mufasir menjelaskan, "Maksud mengingat Allah dalam ayat ini adalah salat lima waktu. Maka, barang siapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan salat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi." Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Amal yang pertama kali dihisab padahari kiamat dari seorang hamba adalah salatnya. Jika salatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya, jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia." (HR Tirmizi dan yang lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, "Hasan Gharib.") "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan 'Laa ilaaha illallah' (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan salat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya, maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah." (HR Bukhari dan Muslim). Dan, "Barang siapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedang yang tidak menjaganya, maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Firaun, Qarun, Haman, dan ubay bin Khalaf." (HR Ahmad). Sebagian ulama berkata, "Hanyasanya orang yang meninggalkan salat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/jabatan, dan perniagaannya dari salat. Jika ia disibukkan dengan hartanya, ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya, ia akan dikumpulkan dengan Firaun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/jabatan, ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan, jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu." Mu'adz bin Jabal meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa meninggalkan salat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah Azza wa Jalla." (HR Ahmad). Umar bin Khattab berkata, "Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat." Umar bin Khattab meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, "Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang paling dicintai oleh Allah Taala?" Beliau menjawab, "Salat pada waktunya. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia tidak lagi memiliki agama lagi, dan salat itu tiangnya agama." Kala Umar terluka karena tusukan, seseorang mengatakan, "Anda tetap ingin mengerjakan salat, wahai Amirul Mukminin?" "Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat," jawabnya. Lalu, ia pun mengerjakan salat, meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak. Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan salat, Dia tidak akan mempedulikan satu kebaikan pun darinya."Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik, selain mengakhirkan salat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya." Aun bin Abdullah berkata, "Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya, ia akan ditanya tentang salat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya, jika tidak, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya)." Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang hamba mengerjakan salat di awal waktu, salat itu --ia memiliki cahaya-- akan naik ke langit sehingga sampai ke Arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.' Dan, apabila seorang hamba mengerjakan salat bukan pada waktunya, salat itu--ia memiliki kegelapan--akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang, lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku'." Rasulullah saw. bersabda, "Ada tiga orang yang salatnya tidak diterima oleh Allah: seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya; seseorang yang mengerjakan salat ketika telah lewat waktunya; dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri." (HR Abu Dawud dari Abdullah bin Amru bin Ash). Beliau saw. juga bersabda, Barang siapa menjamak dua salat tanpa ada uzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar di antara pintu-pintu dosa besar." Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan, "Sesungguhnya orang yang selalu menjaga salat wajib niscaya akan dikaruniai oleh Allah SWT dengan lima perkara:ditepis darinya kesempitan hidup, dijauhkan ia dari azab kubur, diterimakan kepadanya cacatan amalnya dengan tangan kanan, ia akan melewati shirath seperti kilat yang menyambar, dan akan masuk surga tanpa hisab. Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakannya niscaya akan dihukum oleh Allah dengan empat belas (14) hukuman: lima di dunia, tiga ketika mati, tiga di alam kubur, dan tiga lagi ketika keluar dari kubur. Kelima hukuman di dunia adalah barakah dicabut dari hidupnya, tanda sebagai orang saleh dihapus dari wajahnya, semua amalan yang dikerjakannya tidak akan diberi pahala oleh Allah, doanya tidak akan diangkat ke langit, dan dia tidak akan mendapat bagian dari doanya orang-orang saleh.Hukuman yang menimpanya ketika mati adalah dia akan mati dalam kehinaan, dalam kelaparan, dan dalam kehausan. Meskipun ia diberi minum air seluruh lautan dunia, semua itu tidak mampu menghilangkan dahaganya. Hukuman yang menimpanya dikubur adalah kuburnya menyempit sehingga tulang-tulangnya remuk tak karuan, dinyalakan di sana api yang membara siang-malam, dan ia dihidangkan kepada seekor ular yang bernama As-Suja al-Aqra. Kedua bola matanya dari api, kuku-kukunya dari besi, dan panjang tiap kuku itu sejauh perjalanan satu hari. Ular itu terus-menerus melukai si mayit sambil berkata, 'Akulah As-Suja al-Aqra!' Seruannya bagaikan gemuruh halilintar, 'Aku diperintah oleh Rabku untuk memukulmu atas kelakuanmu yang menunda-nunda salat subuh sampai terbit matahari, juga atas salat zuhur yang kau tunda-tunda sampai masuk waktu asar, juga atas asar yang kau tunda-tunda sampai magrib, juga atas magrib yang kau tunda-tunda sampai isya, dan atas isya yang kau tunda-tunda sampai subuh.' Setiap kali ular itu memukulnya, ia terjerembab ke bumi selama 70 hasta.Demikian keadaannya sampai datangnya hari kiamat nanti. Adapun hukuman yang menimpanya sekeluarnya dari kubur pada hari kiamat adalah hisab yang berat, kemurkaan Rab, dan masuk ke neraka." Dikisahkan, seseorang dari kalangan salaf turut menguburkan saudara perempuannya yang mati. Tanpa ia sadari sebuah kantong berisi harta yang ia bawa jatuh dan turut terkubur. Begitu pula dengan mereka yang hadir, tidak satu pun menyadarinya. Sepulang darinya, barula ia sadar. Maka, ia kembali ke makam dan ketika semua orang telah pulang ke tempat masing-masing ia bongkar kembali makam saudaranya itu. Dan ia pun terkejut begitu melihat api yang menyala-nyala dari dalam makam. Serta merta ia kembalikan tanah galian, dan pulang sambil bercucuran air mata. Mendapati ibunya, ia bertanya, "Duhai Ibunda, gerangan apakah yang telah dilakukan oleh saudara perempuanku?" "Mengapa kau menanyakan,anakku?" ibunya balik bertanya. Ia pun menjawab, "Bunda, sungguh aku melihat kuburnya dipenuhi kobaran api." Lalu, ibunya menangis dan berkata, "Wahaianakku, dulu saudara perempuanmu terbiasa meremehkan dan mengakhirkan salat dari waktunya." Ini adalah keadaan mereka yang mengakhirkan salat dari waktunya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak mengerjakannya? Marilah kita memohon pertolongan kepada Allah agar kita selalu dapat menjaga salat pada waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Sumber: Al-Kabaair, Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz at-Turkmani al-Fariqi ad-Dimasyqi asy-Syafii

.: AMAL PEDULI UMAT :.
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu...." [Qs. al-Anfal (8):25]Sebuah amal mulia, tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang mulia, yang dengan amal itulah Alloh memuliakan para nabi dan rasul-Nyn serta orang-orang yang mewarisi jejak langkah mereka dengan sebaik-baiknya. Siapapun yang mengerjakan amal tersebut, maka ia akan menyandang kemuliaan, sebuah kemuliaan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi seluruh alam. Akan tetapi, semulia apapun orang tersebut, apabila melalaikan amal ini, niscaya ia akan jatuh bersama orang-orang yang hina. Amal Ma’ruf wa nahi munkar, itulah amal mulia tersebut. Sebuah kalimat, ungkapan dan istilah yang ringan di lisan, namun berat untuk diemban.Keshalihan kadangkala akan melenakan diri seseorang, sehingga ia merasa cukup dan aman dengannya. la tidak terlalu peduli dengan kondisi umat yang ada, apalagi untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi umat.
la puas hanya dengan duduk-duduk di halaqah-halaqah pengajian di pojok masjid. Seolah-olah ia telah melakukan hal yang sangat besar, padahal manusia di sekitarnya kehausan akan kesejukan Islam dan iman, hanya saja mereka tidak menyadarinya.
Padahal keshalihan tidaklah cukup untuk merubah kondisi yang ada di sekitarnya. Namun, setelah seseorang mampu menshalihkan dirinya sendiri, maka dibutuhkan kesadaran dan kepedulian sosial yang tinggi, yang dengannya mampu menumbuhkan kepekaan seseorang terhadap apa yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya.
Tidak sedikit pula orang yang salah sangka bahwa ia tidak akan "pernah" melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, karena menganggap dirinya belum "benar-benir" shalih. Sebuah sangkaan yang dibuat-buat, dengan dalih:
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri ...." [QS. al-Baqarah (2): 44]
Larangan tersebut bukan "mencegah" seseorang untuk mengajak orang lain berbuat baik, tetapi larangan bagi yang memadukan keduanya, Yaitu menyuruh kebaikan kepada orang lain namun ia sendiri tidak mengerjakannya.Padahal ketika kita mengaku mengikuti jejak kehidupan dan akhlak Rasululloh, maka di sana akan ditemukan kesempurnaan akhlak yang melekat pada diri Rasullullah.
Bukankah Rasululloh adalah orang yang paling peduli terhadap umatnya? Hingga ketika malaikat maut datang pun ia tetap mengingat umatnya?
Lalu .......
tidak malukah kita jika kita mengaku mengikuti beliau , tapi justru melalaikan amal tersebut,
yaitu amal peduli umat?
Artikel Terkait : Sudahkah Kita mencintai Rasullulloh ?