eramuslim - Muhammad Yusman Roy, pengasuh Pondok I'tikaf Jamaah Ngaji Lelaku, Malang, Jawa Timur, belakangan ini menjadi sorotan media massa karena mengenalkan model sholat dengan menyisipkan bacaan berbahasa Indonesia, yang diperuntukkan bagi imam sholat. Yusman Roy, yang dulunya beragama Kristen dan sudah 20 tahun memeluk agama Islam ini beralasan, kalau imam sholat meyisipkan bahasa Indonesia, makmum akan lebih khusyuk dan paham bacaan sholat. "Tidak semua umat Islam tahu arti dari bahasa Arab. Itulah sebabnya banyak orang yang sholat tapi juga masih melanggar perintah Allah. Kita ini seperi beo atau robot. Bisa mengucapkan tapi tidak tahu artinya. Makanya banyak orang yang sholat tapi masih berbuat maksiat," ujar Yusman Roy yang juga mantan petinju di Sasana Sawunggaling, pada harian Republika.
Untuk menyebarkan ajarannya itu, Yusman Roy menyebarkan sejumlah selebaran bahkan VCD ke masyarakat dan mengklaim sudah banyak memiliki pengikut di Surabaya, Blitar, Malang, Tulungagung, Pekalongan dan Samarinda ini. Ajaran Roy ini mengundang reaksi keras dari para ulama dan mengecam keras apa yang diajarkan Roy. Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Dewan Dakwah, Abdul Wahid Alwi mengingatkan umat Islam agar berhati-hati dan menilai ajaran sholat dengan menyisipkan bahasa Indonesia ke dalam bacaan sholat sebagai upaya untuk menjauhkan umat Islam dari Al-Quran. Berikut petikan wawancara eramuslim dengan Abdul Wahid Alwi.
Dari tinjauan agama Islam bagaimana Dewan Dakwah menyikapi munculnya ajaran sholat dengan menyisipkan bahasa Indonesia?
Menurut pemahaman kami itu tidak dibenarkan, karena ini kan ritual ibadah, ritual ibadah itu harus sesuai dengan tuntutannya. Tuntunan itu adalah hadist Nabi Muhammad SAW, "Sholatlah kalian sebagaimana engkau melihat aku sholat." Nah, sholat itu dari takbir sampai salam, itu semua sudah diatur oleh Nabi dengan cara yang sudah baku termasuk di dalamnya bahasa. Rasulullah mengatakan seperti itu jadi kita harus meniru apa yang dilakukan Rasulullah 100 persen. Itu yang pertama.
Yang kedua, didalam sholat itu kita harus dan diwajibkan membaca Al-Fatihah. Al-Fatihah itu sendiri yang disebut dengan Ummul Kitab, Rasulullah pun mengatakan, "Tidak sah sholat seseorang apabila dalam sholat itu tidak dibacakan surat Al-Fatihah." Dalam hal ini surat Al-Fatihah seperti yang suda kita pahami selama ini. Di samping itu, ini adalah Al-Quran dan turun dengan apa adanya seperti itu, jadi kitapun harus membacanya seperti itu. Harus Belajar. Belajar inipun, Insya Allah tidak sulit karena sekarang kenyataannya orang diseluruh dunia sholat dengan membaca Al-Fatihah, mungkin juga surat pendek, dengan belajr sungguh-sungguh dan itu tidak sulit.
Kemudian masalah maknanya, sudah banyak buku-buku dan Al-Quran yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, demikian juga telah tersebar para guru-guru dan da'i-da'i di seluruh dunia ini dengan mengantar pada mereka dengan bahasa yang berbeda-beda. Sehingga nanti... itulah universalnya Islam bahwa di mana-mana orang kalau takbir yang begitu, sujud ya seperti itu, menghadap kiblat ya semua sama. Jadi itu universalnya Islam ya disitu.
Dengan kata alasan, alasan supaya sholatnya lebih khusyuk, tidak bisa diterima?
Tidak bisa diterima, karena masalahnya kan kalau tidak mengerti, bisa dipelajari dan semuanya Alhamdulillah bisa. Orang yang pergi haji itu dari seluruh dunia dengan berbagai bahasa, bisa jadi satu. Selain yang sudah saya sebutkan di atas tadi, nanti akan terjadi kerancuan juga, karena masing-masing akan mengatakan saya sholat dengan bahasa Cina, kata orang Cina. Yang satunya lagi saya dengan bahasa Jepang, kata orang Jepang, dan selanjutnya. Nanti akan membuka peluang kerancuan di umat Islam di dunia ini, sehingga tidak terjadi bahwa umat Islam itu kan sama, satu.
Jadi menurut pencermatan anda, apakah ada motivasi tersembunyi di balik ajaran sholat dengan menyisipkan bahasa Indonesia ini?
Kalau kita mengatakan yakin, kita belum punya bukti konkrit. Tapi indikasi bahwa ke arah itu memungkinkan dan sangat besar indikasinya, karena kalau kita ikuti di mass media yang bersangkutan mengatakan bahwa dia sudah mempraktekkan hal ini sejak tahun 2002 dan pengikutnya katanya sudah di atas 60 orang dan sebagainya, tetapi yang jadi masalah kenapa baru diekspos sekarang? Nah, ini kan kemudian kita bisa menduga-duga adanya beberapa usaha-usaha untuk membuat sesuatu hal yang keruh di kalangan umat Islam dengan berbagai cara, dengan pemikiran-pemikiran yang tidak berdasar pada sumber dari Al-Quran itu sendiri, pada Islam itu sendiri. Artinya ini agama Din, namanya Islam karena sumbernya sudah jelas Al-Quran dan tuntutan Nabi. Kemudian ada usaha-usaha selain hal ini, ada banyak indikasi lainnya yang berusaha menjauhkan umat Islam dari Al-Quran.
Ada motif lainnya selain ingin menjauhkan umat Islam dari Al-Quran?
Sekarang ini ada yang disebut serangan-serangan terhadap umat Islam berbentuk pemikiran. Dalam hal ini berusaha menjauhkan umat Islam itu sendiri dari kaidah-kaidah agamanya dan dalam sejarah tidak terjadi sekali ini saja. Dulu, pada jaman penjajahan, ada yang namanya Snouck Hourgronye, orang Belanda yang masuk Islam sampai pergi haji, kemudian pulang dari haji dengan nama baru Abdul Gofar, dan di kalangan umat Islam menyebarkan pemikiran-pemikiran yang sepertinya ingin mempersempit ajaran-jaran Islam terbatas pada ritual-ritual tertentu. Sehingga Islam itu tidak seperti yang seharusnya dikembangkan yang mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia sehingga Rohmatun Lil A'alamin. Snouck berusaha mempersempit Islam ini pada ritual-ritual tertentu, seolah-olah yang dinamakan Islam itu hanya cukup membaca Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Itu terjadi di Indonesia, India dan Pakistan, juga umat Islam di Afrika Utara. Itu sejarah yang lalu dan kemungkinan tidak mustahil akan berulang dalam bentuk yang lain. Karena penjajahan pada sekarang ini kan bentuknya sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu kan kirim tentara, sekarang penjajahannya dalam bentuk lain yang intinya seperti apa yang disebut Globalisasi. Globalisasi ini kan identik dengan apa yang disebut Westernisasi yang ujung-ujungnya berbuntut pada Kolonialisasi. Kolonialisasi itu bisa terselubung, bisa terang-terangan. Bisa halus bisa kasar. Tapi ujungnya akan ke arah itu yaitu penguasaan terhadap seluruh potensi negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim dengan berbagai cara dan taktik, dan nomor satunya adalah menjauhkan umat dari agamanya.
Lalu haruskah segera diambil tindakan agar ajaran ini tidak cepat menyebar?
Dalam metode dakwah, kalau ada orang yang salah kan harus dinasehati dulu sampai sadar kembali pada kebenaran. Kalau dia mengaku Muslim, secara lahiriah kita akui sebagai Muslim, tapi kita enggak tahu hatinya kan, kalau hati itu hanya Allah yang Maha Tahu. Tapi kalau yang dinasehati tidak mau kembali pada kebenaran, karena ini menyangkut pada kepentingan umat banyak harus ada diusahakan oleh yang berwenang?
Yang paling berwenang menangani masalah ini menurut anda siapa?
Kalau menurut saya, yang berwenang itu pemerintah. Karena yang punya power pemerintah, kalau kami ini kan hanya sebatas memberi himbauan pada umat islam.
Bagaimana himbauan pada umat Islam menyikapi munculnya fenomena ini bagaimana?
Kita sebagai umat Islam, karena kita sudah mengucapkan syahadatain, maka harus berpegang teguh pada dua kalimat syahadat itu dalam arti yang penuh dan semaksimal mungkin, selalu meningkatkan keimanan kita pada Allah SWT dan rasa cinta kita untuk mengikuti ajaran Rasul. Dan dengan meningkatkan pengertian, pengamalan sampai merasakan inti agama itu sendiri, dari hari ke hari harus dekat dengan Al-Quran, memperbanyak dzikir, sering menghadiri pengajian dan majlis ta'lim dan membaca literatur yang banyak dan tidak mengikuti ajaran sholat dengan menyisipkan bahasa Indonesia ini. (ln) Sumber : myQuran Online : link
Tidak ada komentar:
Posting Komentar