Seorang pemuda Muslim Palestina mengakui pengkhianatannya yang besar bulan Juli tahun 2002 lalu. Karena informasi bocorannyalah Panglima Brigade Izzuddin Al-Qassam Syaikh Shalah Syahadah menemui ajalnya. Flat tempat tinggal Syaikh Shalah dihantam rudal pesawat jet tempur F-16 milik Israel.
Informasi yang dibocorkan begitu sederhana: apakah mobil putih bak terbuka bermerek tertentu ada di tempat parkir flat itu? Begitu pemuda itu mengatakan ‘ya’ sebuah perintah serangan yang disetujui langsung oleh PM Ariel Sharon diteken. Blar! Flat itu hancur dalam sekejap, dan menimbun belasan orang di dalamnya. Anak-anak, ibu-ibu, dan Syaikh Shalah.
Informasi yang membunuh begitu banyak orang memang sederhana. Tapi proses sibghah alias rekrutmen pemuda Palestina yang berkhianat itu sudah berlangsung sejak 2 tahun sebelumnya. Sebagai remaja yang miskin dan tumbuh di kawasan konflik, ia jenuh juga. Ia bermimpi hendak keluar negeri, kuliah di Kanada, Amerika, atau Eropa. Makanya ia rajin berkunjung ke pusat kebudayaan dan perpustakaan British Council di kotanya. Tak ada yang salah dengan rajin ke perpustakaan. Tapi di situlah ia direkrut seorang intel Israel yang menyamar jadi dosen asal Kanada.
Sesudah menjadi akrab berminggu-minggu, remaja itu diajak berlibur ke Mesir. Di Kairo ia dijebak berfoya-foya sampai mabuk, dipotret dalam keadaan tidak senonoh bersama beberapa [***]. Habislah dia. Foto-foto itu jadi alat pemerasan intel-intel Israel. Berbagai informasi penting tentang tokoh-tokoh jihad Palestina, suplai senjata, tempat berkumpul, tak bisa ditahannya lagi. Sampai ‘prestasi tertingginya’ mengantar Syaikh Shalah ke ajal. Ini cerita yang selalu berulang dari abad ke abad, dengan orang dan bumbu yang berbeda.
Kajian Utama kali ini hendak membawa kita menyelami alam pikiran para penyusup dan pengkhianat dalam gerakan menegakkan syariat Allah, dan bagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menanganinya.
Semoga bermanfaat banyak dan semakin meningkatkan kewaspadaan.
Musuh yang Hanya Diketahui Allah
"Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata:
‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah’.
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu
benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."
(Al-Munafiquun: 1 – 2)
Riwayatun-Nuzul
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Zaid ibn Arqam yang menuturkan, bahwa ia mendengar Abdullah bin Ubay berkata, "Jangan sekali-kali memberi sesuatu kepada orang-orang yang dekat dengan Nabi sehingga mereka meninggalkannya. Ketahuilah, jika kita menguasai kota Madinah, maka akan terjadi pengusiran besar-besaran atas orang-orang hina (pengikut Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam) oleh orang-orang mulia (orang-orang kafir/munafiq)."
Mendengar ucapan ini, kemudian Zaid menyampaikan kepada pamannya. Lalu pamannya menyampaikan berita itu kepada Rasululah. Tak lama kemudian Zaid dipanggil Rasulullah untuk menceritakan peristiwa sebenarnya. Setelah itu Rasulullah memanggil Abdullah bin Ubay dan beberapa orang temannya untuk mengklarifikasi ucapannya. Pada saat itu mereka mengingkarinya, bahkan mengangkat sumpah bahwa mereka tidak pernah mengucapkannya.
Menurut Zaid dalam riwayat ini, Rasulullah tampaknya lebih percaya kepada Abdullah dan cenderung menyalahkan Zaid, sehingga pemuda itu jadi bersedih hati, "Sungguh telah menimpa diriku kesedihan yang belum pernah aku alami sebelumnya."
Zaid kemudian pergi ke Baitullah lalu duduk termenung di sisi bangunan itu. Pada saat itu pamannya datang dan berkata, "Perbuatanmu itu tidak lain kecuali mendustakan Rasulullah dan perbuatanmu itu hanya mengundang kemarahannya."
Peristiwa itulah yang kemudian menjadi latar sosial turunnya ayat di atas. Tak berselang lama setelah turunnya ayat itu Rasulullah mengutus seseorang untuk menemui Zaid dan membacakan ayat tersebut. Sang Utusan kemudian berkata: "Allah telah membenarkanmu."
Dalam riwayat lain, Ibnu Jarir melalui Qatadah berkata: "Dikatakan kepada Abdullah, sebaiknya engkau meminta maaf kepada Rasulullah Saw, maka Abdullah bin Ubay hanya melemaskan kepalanya, berpaling enggan. Atas peristiwa ini turun ayat berikutnya:
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka dan kamu lihat mereka berpaling sedangkan mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiquun: 5–6)
Aksi khianat
Para ahli sejarah tidak mencatat sejak kapan lahirnya kaum munafiq yang menyusup dalam barisan kaum Muslimin. Akan tetapi sejarah mencatat secara detail aksi mereka dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Setiap aksi mereka selalu menimbulkan keributan yang ujung-ujungnya sangat merepotkan posisi kaum Muslimin. Bahkan Rasulullah sendiri sering dibuat repot oleh ulah mereka.
Di saat kaum Muslimin menyambut seruan Rasulullah untuk berperang menghadapi kaum kuffar di Uhud, di tengah perjalanan sebagian besar pasukan Islam justru mundur. Kaum munafiq berhasil menakut-nakuti sebagian Muslimin. Disebarluaskan lah informasi musuh yang akan dihadapinya terlalu kuat dan berperang menghadapi mereka sama saja dengan bunuh diri.
Akibat ulah kaum munafiq ini moral sebagian pasukan Muslimin sempat jatuh, jumlah mereka berkurang, dan akhir dari pertempuran ini adalah gugurnya beberapa tokoh besar Islam sebagai syuhada’. Bahkan mereka nyaris mengalami kekalahan total.
Sejak perang Uhud, persentuhan Rasulullah dengan orang-orang munafiq semakin sering. Dengan kelihaian dan kelicikannya, mereka selalu berhasil menyusup masuk ke barisan Islam dengan satu target, yaitu memecah-belah persatuan kaum Muslimin. Mereka dapat menyembunyikan kebenciannya yang luar biasa kepada kaum Muslimin dengan tampilan yang sama sekali tidak mencurigakan. Bahkan Rasulullah sendiri kalau bukan diberi petunjuk Allah secara langsung, beliau tidak menyadarinya.
Dalam suatu ekspedisi menghadapi Banu Musthaliq terjadi suatu peristiwa, dua orang berselisih karena soal air. Secara kebetulan, yang satu dari Anshar, sedang yang lain dari Muhajirin. Tiba-tiba fanatisme ashabiyah-nya muncul kembali. Orang Anshar memanggil kaumnya, "Wahai saudara-saudara Anshar!", sementara orang Muhajirin juga menyeru kaumnya, "Wahai saudara-saudara Muhajirin!"
Kesempatan emas ini ditangkap secara baik oleh Abdullah bin Ubay, tokoh intelektual kaum munafiq. Ia kasak-kusuk kepada kaum Anshar dengan berkata: "Di kota ini sudah terlalu banyak kaum muhajirin. Penggabungan kita dengan mereka seperti kata pribahasa: membesarkan anak harimau. Sungguh jika kita sudah sampai di Madinah, orang-orang berkuasa akan mengusir orang-orang yang lemah."
Kepada orang-orang Anshar yang dijumpainya, ia tidak lupa berkata: "Ini adalah akibat dari ulah kalian sendiri. Kalian benarkan mereka tinggal di negeri ini, dan kalian bagi harta benda kalian kepada mereka. Demi Allah, seandainya apa yang ada pada kalian itu dipertahankan, pasti mereka akan beralih ke negeri yang lain."
Provokasi Abdullah bin Ubay itu akhirnya sampai juga kepada para sahabat setia Rasulullah. Mereka menganggap provokasi itu sangat membahayakan persatuan dan kesatuan jama’ah Islam. Umar bin Khaththab bahkan mengambil sikap tegas, memerintahkan Bilal untuk membunuh Abdullah bin Ubay, walaupun akhirnya Rasulullah mencegahnya. Rasululah mendekati Umar seraya berkata: "Wahai Umar, bagaimana kalau sampai menjadi pembicaraan orang dan orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri."
Sampai pada peristiwa ini Rasulullah Saw masih menganggap Abdullah bin Ubay sebagai sahabat, setara dengan para sahabat yang lain, sampai Allah Swt menurunkan wahyu-Nya:
"Mereka itulah yang berkata: Jangan memberikan bantuan apapun kepada mereka yang berada di sekitar Rasulullah, supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah). Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami." (Al-Munafiquun: 7)
Pada mulanya kaum Muslimin mengira, dengan turunnya ayat ini Rasulullah bakal mengambil sikap tegas, memberi hukuman mati. Bahkan anaknya sendiri, Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang sudah lama menjadi Muslim yang taat, kali ini siap menjadi algojo untuk mengeksekusi ayahnya. Akan tetapi Rasulullah justru memberi maaf. Kepada Abdullah, beliau berkata:
"Kita tidak akan membunuhnya, bahkan kita harus berlaku baik kepadanya, harus menemaninya baik-baik selama dia masih bersama kita."
Dengan maaf itu Abdullah bin Ubay bukannya merasa berutang budi dan berutang nyawa kepada Rasulullah, tapi justru semakin menjadi-jadi ulahnya. Bahkan ia berencana untuk memfitnah Rasulullah secara langsung dengan mengintai dan mencari celah.
Ketika ‘Aisyah tertinggal dari rombongan dan akhirnya ditemukan oleh seorang sahabat yang menyusul kemudian, maka fitnah keji kini diarahkan kepada isteri Nabi. Ia kasak-kusuk di antara para sahabat. "‘Aisyah telah berlaku ‘serong’ dengan lelaki lain," bisiknya.
Tanpa diduga ghasib ini menyebar bagai rumput kering yang tersulut api. Rasulullah sendiri hampir saja menjadi korbannya. Berhari-hari Rasulullah menjauhi istri tercintanya sampai Allah menurunkan ayat 11–19 surat An-Nuur. Dalam wahyu tersebut Allah menjelaskan, berita bohong itu sengaja disebarluaskan orang-orang munafiq untuk memecah belah kaum Muslimin dan menghilangkan kepercayaan kepada pemimpinnya.
Kaum Munafiq tak henti-hentinya menyebarkan fitnah dengan cara menyusup ke dalam jama’ah Islam. Meskipun ulahnya selalu digagalkan Allah melalui petunjuk wahyu, mereka tetap menjalankan aksinya. Ketika Rasulullah hendak memimpin penyerbuan dalam perang Tabuk, mereka kembali berulah. Mereka menyebarkan ketakutan di kalangan tentara Islam bahwa menghadapi tentara Rumawi sama halnya dengan bunuh diri.
Perlu diketahui bahwa kekuasaan Rumawi saat itu sebanding dengan kekuasaan imperialis Amerika Serikat pada saat ini. Ulah kaum munafiq tersebut dicatat secara lebih detail oleh Allah dalam firman-Nya, khususnya terdapat lebih rinci dalam surat at-Taubah.
Sikap tegas
Ketika jumlah Muslimin bertambah banyak dan menyebar tidak hanya di jazirah Arab, maka Rasulullah memandang perlu bersikap tegas dan keras kepada kaum munafiq. Beliau melihat bencana besar terjadi jika kaum munafiq ini dibiarkan leluasa melakukan aksi jahatnya. Tindakan kaum munafiq sudah sangat keterlaluan. Mereka tidak saja memfitnah kaum Muslimin, tapi juga memfitnah dan membelokkan ajaran Islam.
Di desa Dhu Awan, satu jam perjalanan dari Madinah, kaum munafiq membangun masjid. Di sinilah mereka sering berkumpul untuk satu tujuan, mengubah ajaran Islam dari yang sebenarnya. Untuk memuluskan aksinya, mereka meminta agar Rasulullah Saw berkenan melakukan shalat di sana sekaligus membuka masjid tersebut. Rasulullah yang tahu maksud dan tujuan pembangunan masjid tersebut segera memerintahkan kaum Muslimin agar membakar masjid dhirar tersebut.
Dari paparan peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah tersebut, maka kita dapat mengambil pelajaran tentang bahaya yang telah ditimbulkan olah kaum munafiq atas kaum Muslimin. Jika pada masa Rasulullah saja mereka sudah berulah seperti itu, bagaimana dengan ulah kaum munafiq saat ini? Mereka adalah musuh yang nyata tapi tersembunyi. Bagai pepatah: musuh dalam selimut. Tentang hal ini, Allah berfirman:
"Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mau mendengar perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?" (Al-Munafiquun: 4)
Sunnah Sejarah yang Pahit
Dalam sejarah generasi manapun penyusupan menjadi sebuah strategi penting dalam menghancurkan lawan. Pihak tertentu akan mengirim orang-orang yang bepura-pura berada dalam lingkungan masyarakat atau kelompok lawannya untuk mencari informasi sampai dengan mengadakan pengacauan-pengacauan secara tersembunyi.
Allah Subhaanahu wa ta’ala telah memperingatkan tentang hal tersebut dalam Surat Al-Anfaal ayat 60:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya."
Petikan ayat "…dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya..." menandakan adanya musuh-musuh yang tidak terdeteksi oleh kaum Muslimin. Keberadaan mereka sangat membahayakan sehingga Allah Swt memperingatkan eksistensi serta upaya-upaya untuk menghambat kerja mereka.
Memang para mufasirin berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam petikan ayat tersebut. Mujahid mengatakan mereka adalah Bani Quraizhah. As-Sudy berpendapat mereka adalah orang-orang Parsi. Ibn Zayd menganggap mereka adalah orang-orang munafiq. Sedangkan Ath-Thabary cenderung menganggap mereka adalah kelompok jin yang memusuhi da’wah Nabi Muhammad Saw.
Tentu saja akan sangat sulit menentukan secara pasti siapa yang dimaksud oleh ayat tersebut, tetapi hal yang penting bagi kita, para penyusup itu ada dan sejarah membuktikan bahwa gerakan-gerakan mereka seringkali membahayakan kaum Muslimin.
Ada gerakan mereka yang dapat diantisipasi dengan cepat, ada yang juga yang lolos. Jika bisa diantisipasi kerusakan yang besar bisa dicegah. Yang lolos sampai menimbulkan bencana yang luar biasa.
Bani Quraizhah salah satu kelompok masyarakat Yahudi yang terikat Perjanjian Madinah. Mereka berjanji akan bersama-sama kaum Muslimin berjuang mempertahankan kota Madinah jika ada serangan dari luar. Namun perjanjian itu mereka langgar dengan diam-diam menjalin kerjasama dengan orang-orang kafir Quraisy ketika terjadi pengepungan terhadap kota Madinah. Di saat kaum Muslimin menghadapi serangan dari luar, para pengkhianat itu akan menyerang dari dalam. Mereka adalah salah satu contoh musuh dalam selimut.
Penyusupan juga pernah dilakukan oleh Kerajaan Romawi melalui kaki-kaki tangannya dari kerajaan-kerajaan kecil Arab. Di Madinah mereka menyamar sebagai pedagang-pedagang sambil mengamati semua kejadian yang berlangsung dalam masyarakat Muslimin.
Begitu rincinya mereka menganalisis keadaan sampai-sampai ketika terjadi kasus Ka’ab bin Malik tertinggal dalam Perang Tabuk pun mereka ikuti peristiwanya. Ka’ab bin Malik salah seorang sahabat yang mendapat "hukuman" dari Rasulullah Saw berupa boikot sosial karena lalai dari kewajiban pergi berjihad.
Kesempatan itu dipergunakan oleh mata-mata Romawi dengan menjanjikan suaka politik bagi Ka’ab asalkan mau meninggalkan kaumnya. Untung saja Ka’ab tidak tergiur oleh rayuan yang membahayakan itu.
Muhammad ibn Ishaq, sebagaimana dikutip Ibn Katsir, meriwayatkan orang-orang Yahudi merasa tidak senang dengan kerukunan di antara kaum Muslimin golongan Anshar, khususnya dari suku ‘Aus dan Khajraj. Maka diutuslah seseorang yang pandai memfitnah untuk menyusup di kalangan kaum Muslimin. Secara sistematik ia mulai mengangkat isu Perang Bu’ats dan lain-lain konflik yang pernah terjadi antara suku Aus dan Khajraj pada masa jahiliyah.
Akibatnya, luka lama kembali terkuak, sehingga terjadi saling kecam di antara dua suku Muslimin itu. Demikian kuatnya pertengkaran di antara mereka sehingga satu dengan lainnya saling menyiapkan senjata untuk pertempuran di antara mereka.
Untungnya hal ini diketahui Rasulullah Saw dan beliau bersabda: "Apakah kalian (akan berselisih diantara kalian) dengan slogan-slogan dan isu-isu jahiliyah, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?"
Masa Khulafaur-Rasyidin
Sebuah tragedi pengkhianatan yang paling misterius sepanjang sejarah kaum Muslimin adalah terjadinya pembunuhan terhadap khalifah kedua, Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiallaahu ‘anhu. Sampai saat ini tidak terlalu jelas tersingkap apa sebenarnya motif pembunuhan yang dilakukan oleh Firuz, seorang Muslim maula (budak yang dibebaskan) dari Mughaira bin Syaaba.
Umar bin Khattab Ra dibunuh ketika sedang mengimami shalat oleh Firuz yang berma’mum di belakangnya. Ia menikam siapa saja orang yang berusaha menangkapnya, sehingga tujuh orang tewas dan enam orang luka-luka berat. Firuz sendiri kemudian menikam dirinya sendiri hingga mati, dan tertutuplah selamanya latar belakang tindakannya itu.
Ada yang berpendapat pembunuhan dilakukan karena Umar bin Khattab Ra tidak terlalu menanggapi pengaduan Firuz atas ketidakadilan majikan kerjanya, Mughirah, karena Umar tidak menemukan cukup bukti pengaduan tersebut. Ada yang menyatakan Firuz sebenarnya belum masuk Islam dan ia merasa terbebankan atas jizyah satu dinar per tahun yang harus dibayarnya. Ada yang berpendapat Firuz terlibat dalam satu komplotan barisan sakit hati dari mantan-mantan tawanan bangsa Persia, diantaranya Homuzan dan Jafina yang kesemuanya telah memeluk Islam.
Ada pula yang menduga pembunuhan itu hanya perbuatan tunggal Firuz karena sifat chauvinistiknya (shu’ubiyah) terhadap kaum Muslimin. Firuz sebelum ia menjadi budak yang dibebaskan adalah salah seorang panglima besar bangsa Parsi. Namun Parsi terus-menerus dikalahkan oleh tentara Umar bin Khattab.
Semua argumentasi itu bersifat spekulatif dan sebagaimana pembunuhan politik yang terjadi di sepanjang sejarah peradaban manusia, terutama melalui penyusupan-penyusupan, senantiasa berakhir dengan teka-teki tak terpecahkan.
Dua yang terbesar
Akhirnya, harus disebut pula dua pengkhianat besar di dalam sejarah kaum Muslimin yang memiliki dampak luar biasa hingga kini. Penyusupan itu lebih bersifat pemikiran ketimbang politik, namun dalam jangka yang panjang telah menimbulkan dampak politik yang sangat hebat.
Penyusup pertama adalah Abdullah bin Saba, seorang rabbi Yahudi yang menjelang tahun 29 H datang ke Madinah dan menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam. Sikap serta kepiawaiannya dalam membawakan ajaran-ajaran Islam banyak menawan hati kaum Muslimin. Tetapi di balik itu ia memiliki agenda untuk meracuni pemikian kaum Muslimin yang menjadi sumber potensial perpecahan di antara mereka.
Banyak pemikiran Abdullah bin Saba yang disebarkannya kemana-mana dalam perlawatannya yang sangat panjang ke berbagai kota di wilayah Khilafah Islamiyah pada saat itu. Antara tahun 30-35 H ia menusukkan jarum pemahamannya secara halus ke berbagai lapisan masyarakat yang saat itu mulai terdapat benih-benih konflik.
Ajarannya yang paling menyolok adalah tentang Ali bin Abi Thalib yang sangat dihormati di Irak dan Iran. Terhadap al Husain bin Ali ia menyatakan pengagungannya karena di dalam putra-putra keturunannya berpadu darah Khosru-Khosru Imperium Parsi dan darah Nabi Muhammad Saw melalui saluran ibu.
Selain itu ia meyatakan bahwa Ali bin Abi Thaliblah yang paling berhak atas imamah dalam dunia Islam berdasarkan wasiat yang diberikan Nabi Saw kepada menantunya itu.
Penyusup kedua, yang agaknya lebih bersifat penyeleneh, adalah Hurkus ibn Zuhair al Tamimi. Ia seorang yang sangat terbuka namun berpikiran sempit. Pada pembagian ghanimah Perang Hunain ia pernah mengeritik Nabi Muhammad Saw: "Wahai Rasulullah, bertindak adillah Anda dalam pembagian!" Saat itu Nabi Saw menampakkan kekesalannya, "Terlalu! Siapa yang bisa kau harapkan lagi untuk berlaku adil jikalau bukan aku?"
Umar bin Khattab RA hampir menebas Hurkus dengan pedangnya tetapi dicegah oleh Rasulullah Saw. Belakangan ketika terjadi sengketa antara Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra dan Muawiyah Ra, Hurkuslah orang yang paling kecewa dengan proses tahkim yang dianggapnya mempermainkan agama itu. Ia kemudian mendirikan Organisasi Khawarij yang mengkafirkan baik Ali bin Abi Thalib maupun Muawiyah.
Namun, Hurkus yang berjasa dalam perluasan wilayah khilafah Islamiyah itu, menolak untuk menjadi ketuanya. Abdullah bin Wahab Al-Rasibi kemudian resmi menjadi pemuka kelompok ini. Doktrinnya yang sangat kaku tercermin dalam ajaran Nafi ibn Azraq Al-Tamimi (wafat 63 H) yang mengharamkaan pengikutnya menerima ajakan shalat dari pihak lain, tidak boleh memakan hewan sembelihan, tidak boleh menikahi mereka dan tidak ada hubungan waris-mewarisi dengan kelompok non-Khawarij.
Kelompok Khawarij dikenal sangat kuat memegang disiplin Organisasi mereka baik dalam pelaksanaan syari’at maupun ketaatan kepada kepemimpinan Organisasi. Sifat-sifat mudah mengkafirkan kelompok lain kemudian berkembang ke aliran-aliran keagamaan lain meskipun tidak menamakan diri dengan Khawarij. Wallahu’alam.•
Orang Lain di Tengah Kita
Fajar belum menyingsing ketika itu. Tiga orang laki-laki melangkah gagah menggapai takdir mereka. Senyum mereka lepas. Sorot mata mereka teduh, ada keyakinan dan kerinduan yang menggelora di sana. Mereka baru saja akan memulai sebuah kehidupan baru, kehidupan dari kehidupan yang sesungguhnya, hidupnya hidup; kehidupan akhirat sedetik setelah tiang gantungan menutup nafas mereka.
Sayyid Quthb, Yusuf Hawwas dan Abdul Fattah Ismail. Merekalah ketiga pahlawan itu, yang mengakhiri hidup di tiang gantungan, menjelang fajar hari Senin tanggal 29 Agustus 1966. Sebuah buku kehidupan telah berakhir dalam riwayat kefanaan dunia, tapi sebuah buku kehormatan telah dimulai dalam riwayat keabadian akhirat. Sebuah skenario kebatilan telah dirampungkan dengan sempurna, tapi sebuah skenario kepahlawanan baru saja dimulai dengan indahnya.
Itu peristiwa besar dalam sejarah harakah Islam yang kita catat dengan penuh kebanggaan, dan akan tetap kita kenang dengan penuh kebanggaan. Sebab darah para syuhada itulah yang sesungguhnya mengalirkan energi dalam tubuh harakah Islam, yang membuatnya sanggup bertahan di tengah berbagai macam cobaan dan penderitaan panjang yang menimpanya.
Lelaki yang menggantung Sayyid Quthb bersama kedua rekannya itu adalah Jamal Abdul Nasser. Lelaki yang disebut terakhir ini naik ke panggung kekuasaan Mesir setelah sukses melakukan kudeta militer pada 23 Juli 1952. Kudeta militer yang kemudian dikenal dengan Revolusi Juli itu dirancang melalui kerjasama antara militer dengan Ikhwanul Muslimin. Nasser sendiri, disamping merupakan perwira tinggi militer, juga merupakan seorang kader inti Ikhwan. Selama masa perencanaan dan pematangan revolusi, rumah Sayyid Quthb, yang juga dikenal sebagai pemikir kedua Ikhwan setelah Hasan Al-Banna, merupakan salah satu pusat pertemuan terpenting para tokoh perancang revolusi tersebut.
Dalam segala hal Sayyid Quthb adalah senior. Itu sebabnya Nasser selalu memanggilnya dengan sebutan "abang". Setelah menjadi presiden, Nasser bahkan menawarkan jabatan apa pun yang diinginkan Sayyid Quthub. Tapi 14 tahun kemudian, Nasser pulalah yang menggantung seniornya, abangnya.
Pelajaran besar
Dalam sejarah pergerakan Islam, ada sebuah fakta yang terulang berkali-kali, bahwa sebagian besar musibah yang menimpa da’wah dan harakah selalu datang dari dalam harakah itu sendiri. Untuk sebagiannya, musibah itu datang dari shaf yang terlalu longgar, yang kemudian tersusupi dengan mudah.
Jangan pernah menyalahkan musuh jika mereka berhasil menyusupi shaf kita. Sebab penyusupan adalah pekerjaan yang wajar yang akan selalu dilakukan musuh. Kita juga akan selalu melakukan hal yang sama. Seperti dulu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melahirkan banyak tokoh intelijen yang dikenal dengan keahlian menyusup. Misalnya Huzaifah Ibnul Yaman dan Amru Bin ‘Ash. Tapi kalau sekarang malah shaf kita sendiri yang mengalami kebobolan. Tampaknya kita perlu belajar kembali.
Apakah shaf Rasulullah Saw sendiri tidak pernah disusupi? Dalam sebuah perang, penyusupan adalah keahlian inti tim intelijen. Orang-orang Yahudi dan munafiqin berkali-kali mencoba melakukan penyusupan ke dalam shaf Rasulullah. Tapi tidak pernah berhasil.
Begitu harakah Islam mulai membuka diri dengan masyarakat luas, masyarakat yang heterogen, maka mereka akan berhadapan dengan persoalan kontrol Organisasi. Pengetatan dan pelonggaran berakar pada konsep harakah sendiri tentang mekanisme kontrol internalnya.
Keterbukaan adalah asas da’wah. Semua manusia mempunyai hak untuk dida’wahi, sama seperti mereka berhak juga untuk ikut berpartisipasi dalam da’wah. Jadi gerakan bawah tanah haruslah dianggap sebagai sebuah pengecualian, yang ditentukan oleh tuntutan kondisi lingkungan strategis da’wah.
Tapi di sinilah letak masalahnya; keterbukaan adalah tuntutan da’wah, tapi keterbukaan juga bisa membawa masalah. Salah satunya adalah penyusupan itu; terlalu ketat akan menutup ruang partisipasi dan rekrutmen, terlalu longgar akan membuka peluang penyusupan. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana membangun sebuah Organisasi da’wah yang terbuka, tapi tetap rapi dan terkontrol?
Sistem kontrol
Apakah yang harus kita kontrol dalam Organisasi da’wah kita? Jawabannya adalah gagasan dan orang. Gagasan perlu dikontrol karena manhaj da’wah kita mengalami proses interaksi yang dinamis dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam Organisasi dan pada lingkungan strategis. Prinsip-prinsip da’wah yang bersifat fundamental dan permanen, atau yang biasa disebut dengan tsawabit, dengan pikiran-pikiran yang bersifat variabel, atau yang biasa disebut dengan mutaghayyirat, mengalami proses-proses pengujian dan pembuktian yang rumit dan kompleks.
Benturan-benturan yang berkesinambungan dengan realitas melahirkan dinamika dalam pemikiran yang menjadi sumber kekayaan harakah. Tapi dinamika itu jugalah yang harus dikontrol. Kontrol bukanlah merupakan upaya penjegalan atas munculnya gagasan-gagasan baru. Kontrol dilakukan untuk memastikan bahwa proses kreativitas dan pengembangan pemikiran dalam da’wah berlangsung dengan panduan metodologi yang benar. Keluaran (out put) yang kita harapkan adalah munculnya gagasan baru yang menjadi sumber kekayaan pemikiran yang mendinamisasi da’wah.
Ambillah contoh bagaimana, misalnya, gagasan tentang penggunaan kekerasaan telah mendorong banyak harakah Islam terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan penguasa dan masyarakat. Kekerasan bagi mereka adalah cara kilat untuk mengubah masyarakat atau melawan kemungkaran. Apakah munculnya gagasan itu merupakan proses dinamika pemikiran yang murni dari dalam atau ada kekuatan lain yang ‘mewahyukan’ pemikiran itu kepada harakah karena mereka memang menginginkan harakah berpikir dan bertindak begitu?
Kontrol atas orang dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada penyusup dalam Organisasi da’wah. Hubungan personal dalam da’wah dilakukan atas dasar kepercayaan atau tsiqah; kepercayaan kepada aqidah, niat, fikrah, akhlak. Tapi kepercayaan itu bersifat subjektif, sedangkan manusia juga mengalami perubahan-perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan-perubahan itulah yang perlu kita kontrol; dari saat seseorang menjadi objek da’wah, kemudian bergabung dengan da’wah hingga saat wafatnya.
Seseorang bisa dirancang sebagai penyusup ke dalam da’wah, tapi bisa juga direkrut oleh ‘orang lain’ justru setelah ia bergabung dengan da’wah. Proses rekrutmen bisa berlangsung melalui suatu rekayasa intelijen, tapi bisa juga terjadi secara natural melalui pergaulan sehari-hari. Dalam kondisi terakhir ini, seorang aktivis da’wah biasanya mengalami penyimpangan perilaku atau akhlak, larut dalam pergaulan, dan kemudian secara tidak sadar membawa ‘pesan’ orang lain tanpa sadar ke dalam da’wah.
Akhir kata, sistem proteksi gerakan da’wah harus dilakukan dengan dua cara: penguatan kesadaran manhajiah dan penguatan kesadaran intelijen. Kesadaran manhajiah akan memungkinkan kita mengontrol gagasan, sedangkan kesadaran intelijen memungkinkan kita mengontrol orang.
Sumber : Jama'ah dan Pengkhianat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar