.: RISALAH ISLAM :.

Sabtu, 01 November 2008

Masa Terburuk Bagi Suatu Kaum

Al-Wahn menjadikan perilaku dan sikap manusia bergerak karena motif-motif duniawi: benda-benda, tokoh yang diagungkan, atau gagasan-gagasan rasio. Sumber bencana.

Ada masanya, suatu bangsa merasakan titik terendah sepanjang sejarah peradabannya. Bencana alam maupun perang antar sesama yang paling merusak sudah menimpanya. Kepemimpinan yang paling jahil dan culas sudah merajalela. Bahaya yang paling menakutkan berupa kehancuran sudah menjelang.

Dari perspektif perjuangan menegakkan Dienullaah, Masa-masa terburuk seperti itu bisa juga dirasakan oleh bangsa Muslim. Bahaya datang dari langit dan dari perut bumi. Kehidupan kaum tersebut dikendalikan oleh nafsu-nafsu jahat manusia yang paling buruk yang pernah berkuasa. Keadaan seperti ini persis seperti yang diprediksi oleh Rasulullah saw empat belas abad yang lampau. Beliau bersabda:

"..Ummat-ummat (lain) hampir seperti akan berebut (menyantap) kalian (ummat Islam), sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang makan kepada pinggannya. Ditanya: Apakah karena kami sedikit waktu itu ya Rasulullah? Jawab Nabi Saw: Bahkan pada waktu itu kamu sangat banyak, tetapi bagaikan sampah dilanda banjir. Telah menimpa padamu al-Wahn. Ditanya: Apakah al-Wahn itu ya Rasulullah? Jawab Nabi saw : Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud)

Kedudukan yang menjadi harapan Rasulullah Salallaahu 'alaihi wa salam bagi ummatnya merupakan kebalikan dari hadits di atas. Bukan hanya terhindar dari nafsu para penguasa dunia, setiap bangsa Muslim diharapkan oleh beliau Saw untuk justeru menjadi pengendali utama kehidupan dunia. Karenanya beliau bersabda:

"Kalian jangan memaki dunia, sebab ia sebaik-baik kendaraan bagi orang Mukmin, di atasnya ia mencapai kebaikan, dan di atasnya ia selamat dari bencana bahaya." (HR Ad-Dailami)

Pada hadits yang lain Rasulullah bersabda:

"Perbaikilah urusan duniamu, dan beramallah untuk akhiratmu." (HR Asy-Syihab)

Batasan tipis yang diwanti-wantikan kepada Ummat Islam adalah, dalam proses mengendalikan dan menyempurnakan kehidupan jangan sampai terperosok menjadi jatuh cinta dan berasyik masyuk dengan dunia, yang justeru berpotensi membalik keadaan. Dunialah yang kelak akan mengendalikan mereka.

Al-Wahn atau cinta dunia itu termanifestasi dalam realitas kehidupan saat ini, dimana perilaku dan sikap seseorang selalu didorong dan digerakkan oleh motif-motif duniawi. Mulai dari rakyat kecil hingga konglomerat, dari pejabat rendahan hingga pucuk pimpinan nasional, orientasi perjuangannya semata-mata bersifat kebendaan. Dalam keadaan seperti ini sulit diharapkan munculnya kesetiakawanan, solidaritas, dan kepedulian terhadap nasib sesamanya. Yang sering muncul dan mendominasi kehidupan sehari-hari adalah sifat dan sikap nafsi-nafsi. Masing-masing orang hanya mau mempedulikan dirinya sendiri.

Lebih parah lagi, kelemahan semacam itu menjadikan manusia sama dengan domba-domba liar yang keluar dari barisannya. Saat-saat seperti inilah waktu yang tepat bagi serigala untuk memangsa. Tidak heran jika ummat Islam kini menjadi korban pembantaian oleh serigala-serigala yang sedang kelaparan. Sungguh mengenaskan.

Apa yang kurang pada bangsa ini?

Jumlahnya ratusan juta orang, 1 juta kali lipat jumlah mereka yang mereka menemani Nabi menunaikan haji Wada' saat akan wafat. Pusat-pusat kekuasaan konstitusional berada di tangan mereka. Kepala Negara dan Kepala Pemerintahannya adalah seorang pria bergelar Kyai Haji, fasih menyitir ayat dan pandai berdebat. Ketua majelis musyawarah tertingginya seorang cendekiawan yang luas pengetahuannya dan berani melawan penguasa zhalim. Sedangkan ketua lembaga pengawas kekuasaannya bekas tokoh utama pergerakan mahasiswa. Ketiga-tiganya mantan pemimpin Organisasi Islam terbesar. Yang pertama pernah memimpin Organisasi Muslim terbesar di dunia yang arti namanya adalah "Kebangkitan Para Ulama", yang kedua memimpin gerakan dakwah terbesar di negeri ini yang arti namanya "Para Pengikut (Nabi akhir zaman) Muhammad", sedang yang ketiga memimpin sebuah Organisasi mahasiwa yang paling produktif melahirkan kader pemimpin bangsa.

Sayang, ketika posisi strategis sudah berada di tangan, ummat Islam saat ini justru sangat berantakan. Sangat ironis, justru pada saat berkuasa ummat Islam selalu menjadi korban pembantaian di setiap kerusuhan yang terjadi. Selama lima puluh tahun lebih Indonesia merdeka belum pernah terjadi pembantaian massal terhadap ummat Islam secara sistematis seperti saat ini. Memang orang-orang Komunis pernah melakukan pembantaian terhadap ummat Islam, tapi segera setelah itu mereka mendapatkan perlawanan yang telak sehingga jatuh korban yang sangat banyak di pihak Komunis, bahkan selanjutnya partainya dibubarkan dan ajarannya dilarang disebarluaskan.

Lebih aneh lagi, para pemimpin ummat yang kini berada di puncak kekuasaan itu tak berdaya untuk menghentikan pembantaian terhadap ummat Islam. Mereka seolah membiarkan ummatnya dibantai setiap hari. Berdasarkan berbagai alasan dan argumentasi, mereka tak pernah habis-habisan berdiri tegak mencegah pembantaian itu terjadi, berteriak lantang menangkap orang-orang jahat pelakunya, sebaliknya lebih asyik dengan kesibukannya sendiri.

Kenyataan pahit itulah yang kini dihadapi ummat Islam, rakyat kebanyakan. Mereka menderita lahir dan batin. Secara lahiriyah mereka hidup di bawah tekanan kemiskinan, kedzaliman, dan kesewenangan. Secara batin mereka merasa tidak ada pembelanya setelah para pemimpinnya yang semula dibela habis-habis naik ke tangga kekuasaan.

Dalam situasi seperti ini ummat Islam bukannya semakin menyatu, tapi justru sebaliknya antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling mengecam, memfitnah, bahkan adu kekuatan. Mereka terbelah berkeping-keping yang antara kepingan yang satu dengan kepingan yang lain saling berebut, saling menyikut, dan saling memusnahkan. Dari luar mereka dibantai, dari dalam mereka saling bertikai.

Belum lagi bencana alam yang sambung-menyambung. Lalu datang pula bahaya ancaman dari luar, yang menginginkan pecahnya negeri ini menjadi negara-negara kecil yang mudah ditindas dan diajak kompromi untuk dihisap kekayaannya. Jika keyakinan pada peringatan Rasulullah Saw masih menjadi pegangan, maka rasanya diri kita dan orang-orang di sekitar kita, wajib mulai meninggalkan kecintaan pada dunia, dan setiap saat siap mati untuk Ilahi Rabbi.·

Sumber : Luruskan Shaf, Bahaya Mengancam

Tidak ada komentar: